Diskusi Jurnalistik : Masa Depan Kampus dan Tantangan Jurnalis Mahasiswa

Diskusi Jurnalistik : Masa Depan Kampus dan Tantangan Jurnalis Mahasiswa

- in Kabar Kampus
3022
0

Foto: Dandhy Dwi Laksono saat berbicara tentang jurnalistik di depan peserta Diklat KARAKTER Unsulbar.

Karakterunsulbar.com – Menjadi salah satu pemateri di Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Jurnalistik, Lembaga Penerbitan dan Penyiaran (LPP) KARAKTER Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dandhy Laksono menjelaskan, masa depan kampus adalah tantangan mahasiswa jurnalis.

Pendiri rumah produksi film dokumenter WatchDoc tersebut menuturkan, Pers mahasiswa harusnya memberikan konten yang berbeda dengan majalah life style biasanya. Jurnalis harus mampu menulis berita reportase dan investigasi tentang dunia kampus.

“Harusnya ada sesuatu yang unik dari konten Pers mahasiswa itu sendiri,” ujarnya saat memberikan materi di Nusa Pustaka Pambusuang. (5/3/2020)

Sutrada film “Sexy Killers” itu juga menceritakan pengalamannya ketika awal menggeluti jurnalistik di dunia kampus Univeristas Padjajaran.

Ia mengungkapkan, bagaimana tekanan yang diperoleh usai menulis berita tentang permasalahan kampusnya pada saat itu.

Karenanya, ia selalu menekankan di setiap pembicaraannya bahwa menjadi jurnalis harus memiliki beberapa syarat utama.

Diantaranya, jujur dalam menyampaikan berita sesuai ungkapan narasumber, faktual dalam menuliskan berita, akurat dalam menyampaikan informasi sesuai maksud narasumber, dan Indenpenden dalam menulis. Serta, harus memiliki filter yang mampu membedakan informasi publik dan pribadi.

“Kuncinya, perbanyak membaca. Karena syarat bagi jurnalis, jika beritamu terdiri lima paragraf, maka di otakmu harus ada 50 paragraf, ” jelasnya.

Sutradara film “Alkinemokiye” yang bercerita tentang perjuangan buruh dan pensiunan PT. Freeport Indonesia di Timika, Papua itu juga menyampaikan, fungsi jurnalis ibarat jembatan yang menghubungkan satu dengan yang lain dengan tetap menjaga independensi.

“Menjadi mahasiswa jurnalis independen butuh pengorbanan, seperti saya yang harus mendapat nilai C karena menuliskan berita tentang dosen malas. Itu mengajarkan kita menerima konsekuen dari pilihan, ” tuturnya meski dengan nada bercanda.

Ia menambahkan, jurnalis adalah salah satu profesi bagi mereka yang tidak ingin hidup biasa-biasa saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Update Penambahan Anggota Senat Universitas

Rektor Unsulbar, Prof. Muhammad Abdy (kiri) – Guru