Ramadhan di Eropa : Dosen Unsulbar Puasa 17 Jam, Takjil Bikin Sendiri

Ramadhan di Eropa : Dosen Unsulbar Puasa 17 Jam, Takjil Bikin Sendiri

- in Artikel, Kampusiana
115
0

Endriady Edy Abidin, S.IP, MA, Dosen HI Unsulbar, mahasiswa Universitas Limerick, Irlandia. ( foto: Ist).

karakterunsulbar.com – Lima tahun sudah Endriady Edy Abidin, dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) tinggal di Eropa.

Dalam perjuangannya menempuh Pendidikan doktoral, Endriady memiliki berbagai kisah menarik menunaikan ibadah puasa di benua Biru.

” Salah satu pengalaman paling menarik itu, puasa 17 jam, makan sahur pukul 04:00 subuh, kemudian nanti berbuka puasa di pukul 21:00,” ungkap Endriady melalui pesan WA ke jurnalis karaterunsulbar.com, Vinolia, 20/02/2026.

Puasa dengan durasi lebih panjang itu terjadi saat bulan Ramadhan bersamaan dengan musim Panas di Eropa.
Sementara saat musim Semi seperti sekarang ini, durasi puasa lebih singkat, sahur pukul 06:00, sedangkan berbuka puasa pukul 18:00 Waktu setempat.

Endriady merupakan dosen program Studi Hubungan Internasional (HI) fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik dan Hukum.
Saat ini, Ia merupakan mahasiswa program doktoral di Universitas Limerick, Irlandia.
Negara yang beribukota di Dublin ini menempati sekitar lima perenam dari Pulau Irlandia dan terkenal sebagai negara maju, anggota Uni Eropa, serta dijuluki “Pulau Zamrud” karena pemandangan alamnya yang hijau

Lebih lanjut, Endriady yang pernah menjadi ketua program studi HI FISIP Unsulbar menceritakan, Puasa Ramadhan di musim panas terasa lebih menantang, disamping karena durasi yang relatif lama, juga karena hawa yang lumayan panas.
Ia mengatakan butuh lebih banyak cairan saat sahur dan buka puasa di musim panas agar tidak dehidrasi.

Sementara, jika musim dingin tiba, waktu puasanya memang lebih pendek, namun hawa yang terlalu dingin, sehingga tubuh membutuhkan banyak makan dan minum air hangat agar tubuh tetap terjaga kehangatannya.

“Jadi kedua musim itu tantangannya lumayan berat, kalau musim semi atau gugur, karena durasi tidak terlalu panjang dan hawanya lumayan sejuk sepanjang hari” ungkap Endriady.

Takjil

Disamping menghadapi tantangan kondisi cuaca yang berbeda dengan di Indonesia, kisah menarik lainnya yang dirasakan Endriady berpuasa di Eropa adalah kerinduan terhadap makanan khas Indonesia khususnya Sulawesi.

Menurutnya di Eropa khusnya di negara yang Ia tempati, tidak ada penjual takjil khusus untuk buka, demikian pula makanan siap saji saat makan sahur.
Sebagai jalan keluarnya, Endriady membuat sendiri panganan buka dan sahur.

” Karena sudah cukup lama di luat negeri, hal seperti itu tidak lagi dianggap masalah,” tuturnya.

kampus Universitas Limerick (UL) yang ditempati Endiryadi adalah universitas negeri terkemuka di Irlandia yang didirikan pada 1972, berlokasi di tepi Sungai Shannon, Limerick. Terkenal dengan tingkat kepuasan mahasiswa tinggi (85%), kampus ini memiliki >17.500 mahasiswa dan unggul dalam program pendidikan kooperatif.

Universitas Limerick, Irlandia (Foto : www.myeducationrepublic.com)

Jam Kerja

Sebagai mahasiswa doktoral, Endriady juga mengajar mahasiswa S-1. Menurutnya tanggung jawabnya tetap berjalan seperti biasa, termasuk pada saat Ramadhan.
Jam kantor yang sama dengan hari biasa, tidak adanya keringanan seperti di Indonesia yang terjadi penyesuaian jam kerja saat bulan Ramadhan.

“Tantangan lainnya, orang-orang di sekeliling kita tidak puasa, jadi mereka makan, ya makan saja,” sambungnya.

Ia mengatakan, kondisi berbeda di Indonesia, dimana saat bulan puasa, warga yang tidak puasa, tidak makan minum di depan umum.
Menurut Endriady, beberapa kali ditawari makanan, yang mana ia harus menolak denga halus dan menjelaskan bahwa dirinya sedang puasa.

” Kita semakin memahami pentingnya memahami perbedaan yang ada, itu juga pelajaran yang sangat penting,” ungkap Endriady.

Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Endriady mengaku tetap bisa khusyuk menjalanan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan.

Menurutnya dengan belajar di negeri orang, jauh ke Eropa telah memberikannya banyak pelajaran. Bukan hanya tentang akademik, tapi lebih luas lagi, pelajaran tentang hidup.
Ia lebih banyak mengenal kebiasaan warga setempat hingga budaya dari mahasiswa berbagai penjuru dunia yang datang menuntut ilmu.

Dari pengalaman tersebut, Ia menyampaikan pesan kepada Civitas Akademik Unsulbar bahwa “berjalanlah dan melihatlah yang jauh”, untuk menjadi bekal dalam memajukan pendidikan di tanah air kelak. (VIN/RD01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pembentukan Senat Universitas, Guru Besar Unsulbar Beri “Warning” : Taati Peraturan Menteri

Guru Besar Unsulbar, Prof. Dr. Burhanuddin (foto: Ist)