Kampus Berselimut Salju, Zainuddin Unsulbar di Rusia Rindu Takjil Kue Lopis

Kampus Berselimut Salju, Zainuddin Unsulbar di Rusia Rindu Takjil Kue Lopis

- in Artikel, Kampusiana
178
0

Zainuddin Losi, Dosen FISIP Unsulbar, mahasiswa doktoral di Peoples’ Friendship Universitg of Russia (RUDN). (Foto : Ist)

karakterunsulbar.com – Menjalankan ibadah puasa di musim dingin dengan suhu mencapai minus 8 derajat celcius menjadi pengamalaman spiritual tersendiri bagi dosen Unsulbar yang tengah kuliah di Rusia.
Di tengah kondisi bersalju di kota Moskow, Zainuddin Losi merindukan takjil Kue Lopis untuk berbuka puasa.

Kerinduan panganan khas Indonesia seperti Kue Lopis, Sambusa dan berbagai kue lainnya diungkapan Zainuddin, dosen Unsulbar yang kini tengah kuliah doktoral di Rusia.

Kepada jurnalis karakterunsulbar.com, Vinolia, Sabtu, 21/02/2026, Zainuddin menyampaikan berpuasa di musim dingin memiliki berbagai hal yang menarik, mulai dari durasi yang relatif lebih pendek, sekitar 12 jam, dan udara dingin yang menurutnya lebih ringan berpuasa dibanding di tengah cuaca panas.

” Puasa di tengah musim dingin, salju turun terus, yang terbayang itu saat buka puasa adalah Kelapa Muda dan Manyang Mammis (air nira aren manis), yang tentunya nikmat dikonsumsi dengan kue Lopis, Jalangkote atau Sambusa,” ungkap Zainuddin.

Menurut Zainuddin, disamping suhu yang berbeda antara Indonesia khususnya Sulawesi dengan Moscow, Rusia, hal menarik lainnya yang ditemukannya saat berpuasa di Eropa adalah suasana dan kemeriahan Ramadhan.

Bila di Indonesia, Ramadhan sejak awal sudah semarak dengan berbagai kegiatan ibadah dan sosial, seperti pasar takjil, hingga sahur yang semarak. Sementara di tempatnya saat ini, sepi dari kegiatan seperti itu.

” Ada hal menarik saya puasa di sini, buka puasa bersama di masjid di sini, saya selalu bertemu dengan banyak jamaah dari berbagai negara, baik yang berstatus mahasiswa atau pekerja, itu kebahagiaan tersendiri bertemu dengan berbagai latar belakang,” katanya.

Ramadhan tahun ini merupakan kali pertama Zainuddin merasakan puasa di negeri Beruang Merah itu.
Dalam Pendidikan doktoral yang Ia jalani, Zainuddin tinggal di asrama bersama para mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

” Interaksi cukup baik, di kelas persiapan Bahasa Rusia, saya bertemu dengan mahasiswa muslim dari berbagai negara, kami banyak berdiskusi, misalnya tentang perbedaan awal puasa kemarin, Sebagian ada yang sudah berpuasa 18 Februari, sebagaian lainnya 19 Februari, alhamdulillah tidak ada masalah dari perbedaan itu,” kata Zainuddin.

Ia mengatakan, hikmah dari bertemu pelajar dari berbagai latar belakang, memberi penegasan bahwa perbedaan itu tidak memecah akan tetapi memperkaya.
Dari situ, Ia belajar bahwa perbedaan pendapat bukanlah sesuatu untuk dipertentangkan, akan tetapi dipahami.

“Inilah esensi tradisi intelektual ruang dialog yang terbuka, rasional, dan saling menghargai” Jelasnya.

Zainuddin Losi (kanan) bersama warga negara Tajikistan (kiri). (foto: Ist)

Kampus “Universitas Dunia”

Selain menceritakan tentang pengalaman barunya berpuasa di Eropa, Zainuddin juga menyampaikan perkembangan proses studinya.

Di Rusia, Zainuddin Losi yang juga dosen Program Studi Ilmu Polik Unsulbar itu berkuliah doktoral di Peoples’ Friendship Universitg of Russia (RUDN).

Dikutip dari schoter.com, RUDN University (Peoples’ Friendship University of Russia) adalah universitas negeri terkemuka di Moskow, Rusia, yang didirikan pada tahun 1960 untuk mendidik mahasiswa internasional.

Terkenal sebagai “universitas dunia” karena menampung mahasiswa dari 145-150 negara, RUDN menawarkan program studi komprehensif dari sarjana hingga doktoral, dengan keunggulan di bidang kedokteran, hukum, dan ilmu sosial.

Zainuddin menjelaskan, di tahun pertama di Rusia, Ia fokus pada peningkatan kemampuan Bahasa Rusia dengan mengikuti kelas persiapan bahasa Rusia selama satu tahun di Kutafin Moscow State Law University (MSAL).

Rusia dari berbagai literatur diketahui merupakan negara terluas di dunia yang membentang di dua benua (Eropa-Asia) dengan luas 17,13 juta kilometer persegi, mencakup Danau Baikal terdalam, cuaca ekstrem Siberia, hingga arsitektur kubah bawang.
Negara ini menonjol karena kekayaan budaya (balet, sastra, 11 zona waktu), sejarah Uni Soviet, kereta Trans-Siberia, serta status sebagai negara beruang merah pengekspor energi terbesar. (VIN/RD01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pembentukan Senat Universitas, Guru Besar Unsulbar Beri “Warning” : Taati Peraturan Menteri

Guru Besar Unsulbar, Prof. Dr. Burhanuddin (foto: Ist)