karakterunsulbar.com – Cuaca di Majene menjelang siang hari itu cukup panas terasa menyengat, sinar matahari bersinar terik, “pak Dosen” tetap semangat mengayunkan dengan keras cangkul, Ia menggali tanah yang menjadi tempat pondasi rumah dipasang.
Di aplikasi tertera data bahwa saat itu suhu Majene 30°C.
“Pak Dosen” membangun sendiri rumahnya, menjadi tukang bangunan di rumah sendiri tanpa menggunakan jasa tukang.
Kini setelah pemerintah mencairkan Tunjangan Kinerja (Kinerja), “Pak Dosen” tak perlu lagi menjadi tukang batu untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya, Ia sudah punya dana untuk mengupah tukang.
Bagi Waktu
Kisah menggali tanah di tengah cuaca panas untuk fondasi rumah di awal tahun 2023 itu masih diingat dengan baik Bilferi Hutapea yang juga dosen Teknologi Pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unsulbar.
Bilferi yang ditemui Senin, 1/9/2025 menceritakan kisah perjuangannya untuk memiliki rumah sendiri pasca diterima sebagai dosen PNS di Unsulbar di tahun 2022.

Ceritanya, setelah dipastikan diterima sebagai dosen PNS di Unsulbar tahun 2022, Bilferi bersama istri kemudian merantau dari kampung halamannya di tanah Batak, Sumatera Utara ke Majene, Sulawesi Barat, dimana kampus Unsulbar berada.
Bersama istri, Ia kemudian tinggal di rumah kost tak jauh dari kampus Unsulbar.
Mengandalkan tabungan hasil kerja sebelum jadi PNS di Unsulbar, Bilferi kemudian membeli sebidang tanah berukuran 10 m X 20 m di Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur, Majene.
” Gaji pertama kali saat dosen CPNS Rp 2,2 juta, jadi agar rumah bisa terbangun, saya putuskan kerja sendiri rumah, mulai dari fondasi, pengecoran hingga pemasangan dinding batu merah, saya kerjakan sendiri,” kenang Bilferi.
Ia menceritakan bagaimana tantangan menjadi tukang tunggal di rumah sendiri. Untuk pasang dinding berbahan batu merah misalnya, Bilferi awalnya mengaduk pasir dan semen dalam wadah di lantai, kemudian campuran itu dimasukkan dalam beberapa ember dan diangkat ke bangku tinggi.
” Karena bekerja sendiri seperti itu, dalam satu hari dinding yang bisa saya pasang sekitar 1 meter saja, kita kan juga bagi waktu tugas utama mengajar di kampus,” kata Bilferi.
Ia mengatakan satu – satunya pekerjaan pembangunan rumahnya itu yang menggunakan jasa tukang adalah saat memasang atap.
Menurutnya untuk pekerjaan pasang atap tidak bisa dilakukan sendiri karena bagian pekerjaan ini rumit dan butuh orang lain memegang atap saat dipasang.
Karena bekerja sendiri di hampir semua tahapan, proses pembangunan rumah berukuran 6 m X 6 m tentu berjalan pelan.
Tiga tahun berjalan, sejak awal 2023 hingga pertengahan 2025, rumah terbangun “setengah jadi”.

Tukin Berdampak
Harapan besar pembangunan rumahnya dapat segera rampung timbul saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Brian Yuliarto, mengunjungi Unsulbar, Selasa, 29 April 2025.
Pembicaraan Menteri Brian yang paling tersimpan di benak dosen Bilferi saat Menteri menyatakan tunjangan kinerja dosen akan segera dicairkan.
Menurutnya, penjelasan Menteri Brian di kampus dilengkapi rencana skema pembayaran dengan memperhitungkan prestasi sebagai dosen melegakan hati dan perasanaan para pendidik di kampus.
” Setelah tukin benar – benar cair, pikiran pertama saya memang adalah menyelesaikan pembangunan rumah, saya secara pribadi menyampaikan terima kasih ke pak Menteri (Brian,-) yang merealisasikan pembayaran tunjangan, dampaknya sangat terasa bagi kami dosen,” kata Bilferi dengan suara terharu. Ia juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas perjuangan Aliansi Dosen ASN Kemdiktisaintek (Adaksi) mengadvokasi perjuangan Tukin Dosen.
Setelah mendapatkan dana tukin di bulan Juli 2025, Bilferi menyatakan untuk penyelesaian pembangunan rumahnya itu selanjutnya akan menggunakan jasa tukang batu dan buruh.
” Selain agar lebih cepat selesai, saya akan menggunakan jasa tukang karena saatnya juga berbagi kepada warga dengan memberikan pekerjaan,” ungkap Bilferi.
Lebih lanjut Ia mengatakan, selain berdampak bagi penyelesaian rumahnya, dampak tukin dosen lainnya yang Bilferi rasakan adalah tersedia dana untuk pulang kampung di hari Natal Desember mendatang.
Bilferi mengungkapkan sejak pertama kali tugas Unsulbar, hari raya Natal selalu Ia rayakan di Majene.
Pertimbangan utamanya tidak pulang kampung dalam 3 tahun ini adalah karena biaya pesawat dari Majene – Makassar – Jakarta – Medan pergi pulang mahal.
” Karena ini sudah ada Tukin, sudah ada yang bisa kami sisihkan untuk biaya pulang berhari raya Natal bersama keluarga,” tambah Bilferi yang memiliki pangkat fungsional, Lektor.
Menurutnya, tukin cair dipertengahan 2025 yang dibayarkan rapel 6 bulan juga memacu dirinya dan dosen lainnya untuk lebih meningkatkan kinerja pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Besaran tukin dosen di lingkungan Kemendiktisaintek untuk asisten ahli kelas jabatan 9 sebesar Rp 5.079.200; lektor kelas jabatan 11 Rp 8.757.600; lektor kepala kelas jabatan 13 Rp 10.936.000; dan profesor kelas jabatan 15 Rp 19.280.000 per bulan.
Apresiasi
Wakil Dekan FKIP Unsulbar, Dr. Aisyah Humairah, M.Si. secara terpisah mengungkapkan apresiasi atas kinerja Bilferi sebagai seorang dosen.
Menurut Icha, sapaan akrabnya, Bilferi adalah dosen yang aktif menulis buku. Ia juga memimpin unit Pengembangan Pembelajaran, dan selalu hadir dalam kegiatan program studi maupun kegiatan di fakultas.
” Dosen Bilferi juga menunjukkan keteladanan luar biasa dalam kehidupan pribadinya. Dengan ketekunan dan kerja keras, beliau membangun rumahnya sendiri dari pondasi hingga finishing tanpa bantuan orang lain, namun tetap menjalankan tugas akademiknya dengan penuh tanggung jawab,” kata Wakil Dekan Dr. Khumaira.
Ia menambahkan, Bilferi adalah sosok dosen yang menjadi inspirasi nyata tentang dedikasi, kemandirian, dan kebersahajaan yang patut diteladani.

Menurut Bilferi yang merupakan anak sulung dari 3 bersaudara, kerja keras dan sikap tidak kenal menyerah karena Ia tempuh adalah penerapan dari prinsip hidup dari leluhurnya dari tanah Batak yakni : Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapon.
Ketiga nilai ini saling berkaitan dan merupakan ukuran kesuksesan serta keberhasilan hidup yang harus dipenuhi secara utuh untuk mencapai kehidupan yang bahagia. (RD01)

