Dosen peneliti memasang perangkat perekam suara berukuran kecil untuk menangkap duet khas Tarsius lariang. ( Foto : Ist )
Karakterunsulbar.com — Di balik rimbunnya perkebunan kelapa sawit, kebun campuran, dan sisa hutan primer di sekitar Dusun Benteng, Kabupaten Pasangkayu, sebuah upaya untuk mengungkap misteri alam tengah berlangsung. Sekelompok peneliti memasang perangkat perekam suara berukuran kecil untuk menangkap duet khas Tarsius lariang, primata mungil endemik Sulawesi yang saat ini masih berstatus Data Deficient (kurang data) dalam daftar merah IUCN.
Langkah pelacakan primata langka ini diinisiasi oleh tim peneliti skema Riset Dosen Pemula (RDP) dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang didanai melalui DIPA Tahun Anggaran 2026. Tim yang diketuai oleh Alexander Kurniawan Sariyanto Putera, M.Si ini beranggotakan dosen Yusrianto Nasir, M.Pd dan Isdaryanti, M.Si serta melibatkan mahasiswa yakni Andika, Sahrul, dan Muhammad Yusuf.
Dalam keterangan media yang diterima redaksi karakterunsulbar.com, dilakukan pemetaan keberadaan satwa tersebut di sepanjang Sungai Lariang dengan menggunakan pendekatan bioakustik atau Passive Acoustic Monitoring tanpa mengganggu perilaku alaminya.
Dalam praktiknya di lapangan, salah satu anggota tim tampak telaten memasang alat perekam berbentuk kotak abu-abu tersebut dan mengikatkannya pada batang pohon di area perkebunan.
“Tujuan dan makna penelitian yang kami laksanakan ini adalah untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam konservasi Tarsius Lariang serta memberikan dampak terhadap rencana aksi konservasi untuk satwa yang endemik dan langka dari Sulawesi ini,” ujar Alexander.
Dalam pemantauan perdana pada malam 9 September 2026, alat perekam tim peneliti berhasil menangkap puluhan episode vokalisasi Tarsius lariang.

Fenomena Menarik
Pemantauan ini dilakukan pada tiga titik yang mewakili tutupan lahan yang berbeda: hutan primer, kebun kelapa sawit, serta kebun campuran yang didominasi pohon pisang dan cokelat.
Hasil awal memunculkan fenomena menarik, yakni aktivitas bersuara primata nokturnal ini justru paling banyak terekam di area kebun campuran, sementara di kebun sawit vokalisasinya terdengar jauh lebih jarang.
Pola awal ini menjadi sinyal penting bahwa Tarsius lariang masih mampu bertahan hidup di lanskap yang telah banyak mengalami perubahan, asalkan masih tersedia vegetasi seperti pohon cokelat yang bisa mereka gunakan sebagai tempat berlindung di siang hari.
Meski demikian, tim peneliti menegaskan bahwa temuan ini baru sebatas pola awal dan perlu diperdalam melalui pemantauan tambahan guna menyimpulkan preferensi habitat mereka yang sesungguhnya.
Selain melakukan perekaman di alam, tim peneliti juga melakukan pendekatan sosial dengan warga sekitar, dengan aktif berdiskusi dengan warga lokal tentang Tarsius.
Bagi warga Desa Ompi, primata yang baru dideskripsikan sebagai spesies tersendiri pada tahun 2006 ini lebih dikenal dengan sebutan lokal Puspus atau Dou.
Spesies yang hanya bisa dijumpai di wilayah Sulawesi bagian tengah dan barat ini dapat dibedakan dari kerabatnya melalui suara duet khas yang saling bersahutan saat fajar dan senja. Namun, keberadaan primata mungil ini kian terancam akibat hilangnya habitat yang dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.
Ke depan, hasil pemantauan lapangan ini tidak hanya akan berakhir sebagai laporan tertulis. Tim RDP Unsulbar berencana melengkapinya dengan peta sebaran satwa berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang saat ini telah didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) jenis peta.
Peta ini diharapkan tidak sekadar menjadi data ilmiah, melainkan fondasi utama dalam merumuskan rekomendasi tata kelola koridor satwa liar di sepanjang Sungai Lariang, Sulawesi Barat, demi memastikan sang “Puspus” tetap lestari di tanah asalnya.(Rls)

