Dosen Unsulbar, Dr. Rahmania ( kanan) menjelaskan hasil pengolahan Cangkang Kemiri yang memiliki banyak manfaat. (foto : Ist)
karakterunsulbar.com— Deru ombak dan kerentanan terhadap bencana alam kerap menjadi bayang-bayang panjang bagi masyarakat pesisir di Desa Onang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Namun, di balik kerasnya tantangan alam tersebut, secercah asa baru kini menyala.
Lewat limbah cangkang kemiri yang selama ini dipandang sebelah mata, inovasi teknologi kini masuk ke desa dan menyulapnya menjadi denyut nadi ekonomi baru bagi warga setempat.
Gerakan perubahan ini mewujud nyata lewat peluncuran program strategis Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026. Menitikberatkan pada hilirisasi, program ini membawa teknologi pirolisis tepat guna langsung ke tangan masyarakat.
Dua institusi pendidikan tinggi turun gunung menyatukan langkah; Universitas Negeri Makassar (UNM) bersama Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) bersinergi meramu solusi ekonomi inklusif bagi masyarakat rawan bencana.
Langkah konkret di lapangan dikawal langsung oleh akademisi UNM, Dr. Mohammad Wijaya M., selaku Pendamping Program.
Di garis depan, eksekusi dipimpin oleh Tim Pelaksana Unsulbar di bawah komando Zulkahfi, S.Hut., M.Sc., didampingi Dr. Rahmania HM., S.P., M.Si., dan Ikrar Taruna Syah, S.TP., M.Sc.

Sinergi ini turut menjadi laboratorium hidup bagi enam mahasiswa lintas disiplin dari prodi Kehutanan, Agribisnis, dan Teknologi Hasil Pertanian Unsulbar yang terjun langsung mendampingi warga.
” Sinergi di pesisir Majene ini membuktikan bahwa intervensi teknologi akademis yang membumi tak hanya mampu mengangkat derajat ekonomi warga, tetapi juga mengukir model percontohan nasional dalam membangun ketangguhan masyarakat pesisir secara berkelanjutan,” ungkap anggota tim Kosabangsa Kemiri UNM Unsulbar, Dr. Rahmania.
Pengawet Ikan Alami
Inovasi yang dihadirkan tidak sekadar melayang di ranah teori. Warga desa dibekali empat pilar keterampilan yang mengubah ranting dan cangkang menjadi pundi-pundi rupiah.
Teknologi pirolisis mengubah limbah kemiri menjadi briket arang bernilai tinggi dan asap cair yang berfungsi ganda sebagai pengawet alami ikan.
Dr. Rahmania yang juga dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Unsulbar menjelaskan, warga juga dilatih menciptakan produk turunan inovatif mulai dari arang aktif, sabun charcoal, antiseptik, hingga minyak kemiri, bumbu dapur, dan lulur kecantikan.

Sejak hari pertama peluncuran, geliat antusiasme langsung terasa. Dua kelompok sasaran utama, yakni Kelompok Tani Hutan (KTH) Buttu Baletedong dan Kelompok Nelayan Pallang Pute, langsung berjibaku mempraktikkan pengoperasian alat pirolisis dan meracik minyak serta bumbu dapur kemiri.
Rangkaian pelatihan lainnya akan terus bergulir secara bertahap demi memastikan transfer teknologi berjalan tuntas.
Kehadiran inovasi ini menjadi oase ganda bagi Desa Onang. Bagi kelompok nelayan, ketersediaan asap cair akan memangkas drastis biaya operasional pengawetan hasil tangkapan. Sementara bagi kelompok tani, aneka produk turunan kemiri menciptakan diversifikasi pendapatan yang menjanjikan. (rls/RD01)

