Bulan Ramadhan tiba, sebuah bulan yang dinanti-nanti oleh umat Islam. Momen satu bulan dalam satu tahun ini menjadi sangat berharga, selain menjadi ajang memburu pahala, karena sesuai janji-Nya, beribadah di bulan Ramadhan mendapat ganjaran pahala berlipat.
Selain itu, bulan Ramadan terutama awal puasa menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga.
Banyak orang termasuk mahasiswa sengaja pergi ke kampung halaman untuk merasakan berpuasa setidaknya awal berpuasa bersama keluarga.
Momentum berkumpul di awal Ramadhan itu bagi mahasiswa makin berkesan karena kesempatan untuk merasakan masakan orang tercinta di rumah.
Namun apa jadinya, bila keinginan memulai puasa di rumah tidak dapat terlaksana karena berbagai kendala, mulai kegiatan perkuliahan yang bertepatan dengan puasa hingga jauhnya kampung halaman.
Memulai puasa jauh dari orang tua salah satunya dialami mahasiswa Fakultas MIPA, La Ode Aseprianto. Menurut La Ode, sebagai mahassiwa yang sudah bertahun – tahun tinggal di kost, masakan orang tua salah satu yang selalu jadi angan dirasakan terutama saat sahur dan buka, namun karena saat ini tinggal di kost, jauh dari rumah, La Ode harus bisa bersabar untuk menjalani Ramadhan dengan masak sendiri.
Baginya, makan sahur dan berbuka puasa itu prinsipnya tetap memenuhi kebutuhan energi untuk tetap fit berpuasa sambil berkuliah.
” Kalau soal menu tidak lagi terlalu terpikirkan, justru masih selalu terkenang itu adalah rasa rindu saat sahur dan buka bersama orang tua di rumah, momen kebersamaan di rumah itu salah satu yang paling berkesan saat bulan puasa, tapi karena kita sementara berjuang menuntut ilmu, kita tetap sabar, ini juga demi masa depan,” kata La Ode.

La Ode yang baru saja terpilih menjadi ketua BEM Fakultas MIPA mengaku, salah satu yang paling berkesan saat masuk Ramadhan adalah memulai sahur pertama dengan orang tua.
Namun karena saat ini jauh dari kampungnya, di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, angan untuk makan sahur pertama di rumah terpaksa dipendam sementara waktu.
Sahur pertama jauh dari keluarga juga dirasakan Fatmala Anas, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) program studi HI merupakan salah seorang mahasiswa Unsulbar yang terpaksa tidak pulang kampung saat awal puasa karena bertepatan dengan jadwal kuliah.
Saat sebagian teman kuliahnya pulang kampung memulai puasa bersama keluarga. Fatma harus sabar untuk memulai awal Ramadhan di kost.
Menurut Fatmala, salah satu perbedaan sahur di rumah dan di kost adalah makan sahur, kalau di rumah sudah disiapkan orang tua, sementara di kost, pada subuh hari harus menyiapkan sendiri.
Bangun subuh memasak punya tantangan tersendiri karena pagi harinya sudah harus bangun cepat untuk masuk kuliah.

“Berbeda kalau di kost, Sahur di rumah menunya sudah siap. Tapi sesungguhnya yang paling berkesan itu adalah kebersamaan di bulan puasa bersama keluarga, kebersamaan dengan keluarga sungguh momen berharga,” kata Fatmala.
Puasa tahun ini merupakan tahun kedua, Fatmala dan La Ode berpuasa jauh dari keluarga.
Berpuasa jauh dari kampung halaman ternyata membawa makna tersendiri bagi Fatmala.
Menurutnya saat bulan Ramadhan seperti sekarang ini, dirinya sering diundang teman kuliahnya yang asal Majene untuk berbuka di rumahnya.
” Banyak yang care, beberapa teman ngajak buka puasa di rumahnya, ternyata memang orang Majene itu baik, ramah dan peduli, itu juga yang membuat saya makin betah kuliah di sini, I feeling so blessed..ha..ha..,” kata Fatmala.
Perempuan asal Bone, Sulawesi Selatan ini berharap, berpuasa jauh ari rumah akan semakin melatih dirinya dan mahasiswa lainnya yang juga tidak bisa berpuasa di rumah untuk semakin mandiri dan tetap meningkatkan ibadah di bulan penuh berkah. (RD01)


