Dosen Agroteknologi bersama warga menggelar pelatihan “Peningkatan Keterampilan Budidaya Cabai Berbasis Sumber Daya Lokal” di Kelurahan Baruga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. (Ist)
Karakterunsulbar.com — Fluktuasi harga kebutuhan pokok, khususnya komoditas cabai, acap kali menjadi beban tersendiri bagi ketahanan ekonomi rumah tangga. Menjawab tantangan tersebut, pemanfaatan lahan pekarangan rumah kini didorong menjadi solusi konkret berbasis kerakyatan untuk mewujudkan kemandirian pangan lokal.
Langkah nyata ini diwujudkan para dosen Program Studi Agroekoteknologi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melalui pelatihan “Peningkatan Keterampilan Budidaya Cabai Berbasis Sumber Daya Lokal” di Kelurahan Baruga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene
Dalam keterangan yang diterima redaksi Karakterunsulbar.com, dosen Agroteknologi menjelaskan, bahwa di tengah keterbatasan lahan perkotaan dan permukiman, pekarangan kosong yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat menjadi area budidaya pertanian produktif.
Pendekatan ekologi pertanian dan teknologi tepat guna menjadi kunci dalam pelatihan ini.
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Ketua SDGs Center Unsulbar, Ihsan Arham,M,Si menjelaskan, efisiensi biaya produksi merupakan fokus utama agar sistem pertanian ini dapat dijangkau oleh semua kalangan.
“Kami membekali peserta dengan keterampilan untuk memaksimalkan potensi sumber daya lokal. Sistem budidaya ini dirancang efisien untuk lahan sempit tanpa bergantung pada benih, pupuk, maupun pestisida sintetis dari luar, sehingga modalnya rendah dan menguntungkan,” ujar Ihsan.
Para peserta tidak hanya menerima materi pembekalan di dalam ruangan, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Dalam sesi praktik, warga bersama tim dosen dan mahasiswa merancang bedengan media tanam dengan pemanfaatan botol bekas sebagai pembatas lahan. Materi pelatihan difokuskan pada tiga tahap utama: pembuatan media tanam berbasis kompos limbah rumah tangga, teknik pembibitan benih mandiri, dan perawatan dan pengendalian hama secara hayati.
Menopang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Lebih lanjut, Ihsan memaparkan bahwa kegiatan yang berlangsung di Kelurahan Baruga, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Sabtu 3/10/2026 itu merupakan Program yang juga dirancang sebagai langkah nyata kampus dalam mendukung ketercapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di tingkat lokal.
Ihsan menambahkan bahwa kegiatan budidaya skala rumah tangga ini berkontribusi langsung pada tiga poin SDGs, yaitu:
• SDG 1 (Tanpa Kemiskinan): Membuka peluang sumber penghasilan baru bagi kelompok masyarakat non-produktif.
• SDG 2 (Tanpa Kelaparan): Menjamin ketersediaan pangan mandiri dan sehat di tingkat keluarga.
• SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Memberikan edukasi dan transfer teknologi pertanian yang aplikatif.
Menurutnya, Kelompok pemuda dan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki kegiatan produktif secara ekonomi didorong untuk mengambil peran aktif dalam menjaga ketahanan pangan keluarga.

Menuju Desa Agroekonomi Mandiri
Inisiatif ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Ketua Karang Taruna Appe Sulapa Kelurahan Baruga, Abdul Halim, menilai materi pelatihan sangat aplikatif dan menjawab kebutuhan riil warga saat ini.
“Kegiatan ini berangkat dari kebutuhan dasar rumah tangga. Kami dilatih memaksimalkan pekarangan yang tidak begitu luas agar produktif, bukan hanya untuk konsumsi sendiri tetapi juga berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan,” kata Halim.
Ke depan, Kelurahan Baruga ditargetkan dapat berkembang menjadi desa percontohan kawasan agroekonomi mandiri di Kabupaten Majene. Untuk memastikan keberlanjutan program, tim Agroekoteknologi Unsulbar berkomitmen melakukan pendampingan berkala dan evaluasi lapangan secara konsisten. (rls)

