Setiap mahasiswa dalam usahnya merampungkan studi dan meraih sarjana masing – masing memiliki tantangan, seperti yang dialami mahasiswa Agribinis Unsulbar ini, Hasrul. Untuk berkuliah sehari – hari Ia berprofesi sebagai tukang batu.
Jerih payahnya menjadi tukang batu akhirnya mengantarnya menjadi sarjana pertanian.
Perasaan senang sekaligus terharu diungkapkan Hasrul saat diwawancarai tim liputan KARAKTER, Wawan Virgiawan ( Teknik Informatika 2015).
Ia mengaku senang karena perjuangannya bekerja sambil kuliah akhirnya berbuah manis, Ia lulus dengan baik dan mengikuti wisuda.
Disela – sela acara wisuda IV Unsulbar, Kamis (02/06), Hasrul menceritakan bagaimana tantangan yang dijalani untuk meraih gelar sarjana.
Hasrul asal Kecamatan Pamboang, Majene adalah seorang mahasiswa angkatan 2010 yang juga berprofesi sebagai tukang batu.
” Saya sudah jadi tukang batu sejak tamat SMA, saya bertekad kuat saat itu untuk bisa lanjut kuliah, tapi karena orang tua kurang mampu, saya kemudian terus mencari cara akhirnya menemukan pekerjaan ( tukang batu,-), hasil bekerja itulah yang saya gunakan untuk biayai kuliah,” kata Hasrul.
Putra sulung dari Empat bersaudara ini kemudian menjalani hari – harinya di Unsulbar berkuliah di prodi Agribisnis sekaligus menjadi tukang batu.
Agar keduanya bisa jalan, Hasrul menjadi tukang kadang setengah hari setelah kulaih kelar, kadang juga bekerja satu hari full saat tidak ada perkuliahan di Sabtu – Minggu.
Setelah sekitar 5 tahun berkuliah di Agribisnis Unsulbar, Hasrul akhirnya bisa selesai dengan judul skripsi “Analisis Pembuatan Asam Mangga Terhadap Peningkatan Pendapatan Keluarga di desa Bababulo”.
” Kalau cita – cita, saya berkeinginan menjadi pengusaha, agar bisa membantu orang tua dan ikut membiayai sekolah adik – adik, semoga ada kemudahan mendapatkan modal usaha” kata Hasrul. ( fh)

