Sejumah temuan baru tentang jejak diaspora orang Mandar di sejumlah daerah di tanah air akhirnya terungkap.
Dua pakar sejarah masing – masing dari Unhas Makassar dan Untad Palu menyampaikan temuan tentang diaspora orang Mandar tersebut dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Mandar di aula kantor DPRD, Selasa (29/11).
Seminar itu sendiri merupakan kerjasama Unsulbar, DPRD Majene dengan Masyarakat Sejarawan Indonesia ( MSI ) SUlawesi Barat dalam rangka memperingati Dies Natalis Unsulbar ke-3.
Dua guru besar yang hadir dalam seminar Unsulbar tersebut masing – masing : Prof. Dr. A. Rasyid Asba, MA yang merupakan guru besar Sejarah dari Unhas serta Dr. Haliadi Sali, peneliti senior bidang sejarah di Untad Palu, Sulawesi Tengah.
Pembicara lainnya adalah ketua MSI cabang Sulawesi Barat, Darmansyah yang juga ketua DPRD Majene.
Ratusan orang hadir sebagai peserta seminar tersebut, antara lain para budayawan se Sulbar, seniman, guru – guru sejarah serta ratusan mahasiswa Unsulbar.
Tampak ikut hadir di seminar Prof. Dr. Basri Hasanuddin serta Dr. Rahmat Hasanuddin.Â
Mengawali seminar, Rektor Unsulbar Dr. Akhsan Djalaluddin tampil menyampaikan keynote speech.
Sejumlah informasi baru terungkap dalam seminar yang dibuka secara resmi bupati Majene Fahmi Massiara,
salah satu informasi yang paling banyak menyita perhatian dalam seminar itu bahwa ternyata warga Suku Mandar memiliki keterkaitan erat secara kekeluargaan dengan kerajaan Sulu, Flipina Selatan.
” Pendiri kerajaan Sojol di bagian utara Sulawesi Tengah adalah dari Sulu, setelah itu datang orang Mandar yang kemudian menjadi raja di Sojol, sehingga dari temuan kami itu, sesungguhnya Mandar dan Sojol ( Sulteng,-) dengan Sulu sangat erat,” kata Dr. Haliadi Sali.
Temuan yang disampaikan pakar sejarah Untad ini menyita perhatian, selain karena merupakan informasi baru, juga karena saat ini orang dari Sulu menyandera dua warga Mandar yang berlayar di dekat perairan Sulu.
Para pembicara dan sejumlah peserta menyatakan dengan temuan sejarah itu, upaya pembebasan warga Mandar yang disandera pasukan bersenjata dari Sulu sejak Dua pekan lalu, juga akan lebih bagus juga menggunakan pendekatan kebudayaan.
Perhatian terhadap kasus pelaut Mandar yang diculik dan ditawan pasukan Abu Sayyaf dari daerah Sulu juga ditunjukkan dengan menggelar doa bersama sebelum dimulainya diskusi.
Moderator seminar, Farhanuddin yang juga dosen FISIP Unsulbar memimpin pembacaan doa agar warga Mandar yang disandera dapat bebas secepatnya.Â
Sementara itu, ketua pelaksana seminar sejarah dan kebudayaan, Rahmaniah yang juga dosen Agribisnis Unsulbar mengapresiasi kehadiran ratusan peserta,Â
menurut Rahmaniah, membludaknya peserta dari dari target awal 200 orang namun yang hadir lebih 300 orang juga didukung dengan hadirnya para pembicara yang merupakan pakar sejarah.
” Kami mengapresiasi peserta, tetap bertahan mengikuti seminar yang berlangung tujuh jam, pak Prof Basri juga demikian tetap antusias mengikuti seminar sejak awal hingga penutupan,” kata Rahmaniah. ( RD01 ).Â

