Dosen Program Studi Perikanan Unsulbar, Andi Arham mengungkapkan reklamasi pantai akan merusakan ekosismtem yang ada laut,
sehingga sebelum dilakukan penimbunan laut untuk tujuan pembangunan kawasan, harus dilakukan kajian ilmiah secara mendalam.
Penegasan Andi Arham ini disampaikannya saat menjadi pemateri dalam diskusi tentang reklamasi pantai bertempat di monumen posasi Majene, Sabtu (07/05).
dalam acara itu juga digelar Nonton bareng film dokumenter ” Rayuan Pulau Palsu” film yang yang mengisahkan nasib nelayan setelah laut ditimbun.
” Di Indonesia ini, laut memiliki keragaman hayati yang sangat besar, sehingga bila dilakukan penimbunan laut untuk pembangunan tentu akan merusak ekosistem antara lain hutan Mangrove dan Terumbu Karang,” kata Andi Arham.
Lebih lanjut Andi Arham yang kini melakukan pemulihan karang atau transplantasi karang bersama mahasiswa Perikanan Unsulbar di perairan Teluk Mandar, Sulbar. menjelaskan reklamasi di Dubai ( Timur Tengah ) memang berhasil menjadikan negara itu memiliki resort yang sangat terkenal atau di Singapura yang meluaskan wilayahnya dengan menimbun laut.
” Di Dubai itu perairan yang direklamasi sudah tidak ditemukan ekosistem, namun di Indonesia, masih banyak keragaman hayati yang ada, bahkan keragaman hayati di Indonesia itu yang terbanyak di dunia,” kata Andi Arham.
Film “Rayuan Pulau Palsu ” berdurasi 60 menit itu dibuat rumah produksi WatchDoc pimpinan Dandhy Laksono yang juga merupakan anggota Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ).
dalam film dokumenter tersebut berisi kisah nyata nasib nelayan di Muara Angke Jakarta pasca dilakukan pembangunan sejumlah pulau buatan di teluk Jakarta.
Film “Rayuan Pulau Palsu ” yang berisi kritikan terhadap penimbunan laut untuk pembangunan juga menampilkan reklamasi di daerah lain seperti Teluk Benoa Bali.
Setelah nonton bareng, warga kemudian menggelar diskusi yang dipandu dosen FISIP Unsulbar, Farhanuddin.
sedangkan pemateri diskusi tentang reklamasi ini masing – masing adalah dosen Program Studi Perikanan Unsulbar Andi Arham serta aktivis Lingkungan dari Lembaga Maritim Makassar.
Kedua pemateri tersebut menyatakan reklamasi akan merusak ekosistem yang ada di pantai antara lain Mangrove dan terumbu karang.
Acara nonton bareng dan diskusi di malam minggu itu menarik perhatian banyak warga, selain para nelayan, warga yang menonton film sarat kritik itu berasal dari mahasiwa berbagai perguruan tinggi di Majene.
Nonton Bareng film ” Rayuan Pulau Palsu” tersebut digelar atas inisiatif jurnalis Irwan Fals bersama sejumlah komunitas yang peduli terhadap lingkungan antara lain Ikatan Mahasiswa Mandar Majene Indoensia ( IM3I ) orsat Majene, Perikanan Unsulbar serta Mitra Bahari Sulbar. (fh)

