Aksi Massa – Catatan Kecil Dosen Unsulbar, Kebebasan dan Toleransi Dalam Pancasila

Aksi Massa – Catatan Kecil Dosen Unsulbar, Kebebasan dan Toleransi Dalam Pancasila

- in Berita
906
0
CATATAN KECIL KEBEBASAN DAN TOLERANSI DALAM PANCASILA
 
oleh : Muhammad, S.IP., M.Si.
( Ketua program studi Ilmu Politik, FISIP Unsulbar ) 
Pagi hari di Pambusuang desa pinggiran kabupaten Polewali Mandar. Desa yang dikenal dengan nuansa religiusitas ke-Islmannya yang amat kental, sebagaimana hari kemarin tema sentral hingar-bingar masyarakat masih hangat membicarakan perihal aksi 4 November silam. Saya menduga, baru beberapa hari selepas aksi damai dan memang media massa maupun media sosial hiruk-pikuk perihal aksi damai kemarin pun masih sangat viral.
Mulai dari prediksi dampak politisnya, dinamika dalam penegakan hukumnya, hingga kecaman terhadap pemaknaan yang keliru atas kebebasan dan intoleransi yang belakangan marak. Silih berganti setiap dari masyarakat yang berdiskusi lepas ditemani kopi hangat di pagi hari seakan memaparkan sinopsisnya atas tayangan berita yang dikonsumsinya. Dimaklumi adanya, sebab sekali lagi ini terjadi di Pambusuang, desa yang sekira ribuan kilometer jaraknya dari DKI Jakarta, pengamatan hanya mungkin dilakukan lewat media saja.
Melalui tulisan ini, saya pun ingin membuat catatan kecil apa yang saya dapat pahami dari peristiwa 4 November silam dengan sudut pandang demokrasi Pancasila. Tentu saja pun saya tidak akan coba melihat atas efek domino dari 4 november kemarin. Misalnya, penangkapan kader HMI di sekretariatnya tepat di dua malam kemarin tanggal 7 tepatnya. Sebab terbatasnya ruang dalam menumpahkan catatan kecil ini. Maaf, saya harus memulai pagi ini dengan potongan roti sebagaimana yang lain dengan kopinya.
Kagum, simpati, dan sempat berbisik dalam hati andai pun saya dapat berada di tengah-tengah saudara seimanku yang turun aksi dengan damainya sambil kumandangkan gema takbir dan shalawat. Saya, anda, kita semua tahu pastinya pemicu dari momentum bersatunya jutaan umat Islam sangat salah jika dikaitkan sebagai aksi penolakan terhadap individu, kelompok, etnis apalagi agama. Oleh karena Pancasila telah mengajarkan kita saling bertoleransi dalam bingkai Indonesia. Sekali lagi Indonesia, dan bukan di dunia barat yang sering diberitakan ada demo anti-Islam, pembakaran al Qur’an, bahkan karikatur Nabi Muhammad saw menjadi bahan lelucon mereka. Kendati sering disudutkan di belahan dunia lain, sebagai mayoritas di Indonesia umat Muslim terbukti tak pernah menyudutkan agama lain sebagaimana di barat. 
 
Selama Pancasila tetap menjadi pedoman berbangsa, tentu akan menjadi jaminan di Indonesia bukan tempatnya bagi siapapun yang tidak dapat bertoleransi akan keberagaman suku, agama dan ras. Memahami kandungan nilai Pancasila pun bukan dengan cara dihapalkan tiap deskripsinya dalam buku-buku teks, namun cukup menginternalisasi apa yang menjadi nilai-nilai utama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan sejak dahulu hingga kini. Hmm, pagi hari harusnya pikiran saya tidak perlu berpikir seberat ini, tapi sudahlah mungkin dengan potongan roti terakhirku dapat merubah suasana menjadi lebih ringan.
 
Jika melihat sejarah, tepatnya pada peringatam hari Pancasila 1 Juni 1946, Sukarno dalam penggalan pidatonya,”…Saya bukanlah pencipta Pancasila, Saya bukanlah pembuat Pancasila. Apa yang saya kerjakan tempo hari, ialah sekedar memformuleer perasaan-perasaan yang ada dalam kalangan rakyat dengan beberapa kata-kata, yang saya namakan ‘Pancasila’. Saya tidak merasa membuat Pancasila, dan salah sekali jika ada orang mengatakan bahwa Pancasila itu buatan Sukarno, bahwa Pancasila itu buatan manusia. Jadi apakah Pancasila buatan Tuhan, itu lain pertanyaan…”
Singkatnya, bahwa dalam ber-Indonesia sebenarnya nilai Pancasila telah ada bukan sebagai alat paksa bagi rakyat Indonesia, tapi rakyat Indonesia lah yang telah berciri Pancasila tanpa paksaan ia sebagai simbol negara. Dengan kata lain, nilai Pancasila adalah sesuatu yang sebenarnya ada dan mendarah daging sebagai ciri bangsa sejak dulu sehingga ia pun dapat diterima dengan mudah sebagai sebuah ideologi. Dalam penggalan pidato selanjutnya, Sukarno menambahkan,”…Sekedar formuleren, oleh karena lima perasaan ini telah hidup berpuluh-puluh tahun bahkan berates-ratus tahun di dalam kalbu kita. Siapa yang memberi bangsa Indonesia akan perasaan-perasaan ini? Saya sebagai orang yang percaya kepada Allah SWT, berkata, ‘Sudah barang tentu yang memberikan perasaan-perasaan ini kepada bangsa Indonesia ialah Allah SWT pula…”  
Lantas apa kaitannya dengan aksi damai 4 November? Tak ada asap jika tak ada api, bahwa pemicu dari peristiwa itu adalah karena timbulnya ekspresi semangat keberagamaan dari umat Muslim di Indonesia yang tidak terima agamanya dinistakan. Bahwa dalam membaca dinamika sosial, mungkin saja diantara jutaan massa tersebut ada segelintir yang bermotif politis sebagaimana pidato presiden, tapi saya pribadi amat sangat yakin jika mayoritas adalah karena berangkat dari spirit keberagamaan.
Konstitusi menjamin kebebasan dalam memeluk salah satu agama sekaligus beribadat bagi tiap penduduk. Namun kebebasan tentu berpijak pada nilai Pancasila yang menjungjung tinggi, toleransi, keberadaban demi persatuan dan kesatuan. Adalah sangat wajar jika masing-masing agama mendakwahkan akan kebenaran agamanya, keluhuran ajaran kitab sucinya bagi masing-masing pemeluknya. Untuk konteks ini, setiap kita sebagai umat beragama wajib untuk saling menjaga sebagai wujud toleransi sesuai cita-cita Pancasila.
 
Hanya saja jika konteksnya bergeser sebagaimana pemicu dari aksi damai 4 November dimana sikap intoleransi justru dilakukan dengan melontarkan komentar yang menyinggung kitab suci agama lain tentu bukan cermin dari sikap taat pada Pancasila sebagai nilai luhur bangsa. Sebab apapun alasannya dan sebagaimanapun tidak setujunya kita pada agama lain berikut ajarannya, tidak dibenarkan dalam menghujatnya apalagi di hadapan para pemeluk agama yang dihujat tersebut. Itulah rakyat Indonesia yang sedari dulu telah hidup dengan toleransinya terhadap kemajemukannya.
Sehingga dalam memaknai kebebasan dan toleransi wajib berpijak pada nilai luhur Pancasila. Siapapun harus dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini agar persatuan dan kesatuan bangsa menjadi semakin kokoh di masa mendatang. Amien, selamat beraktifitas saya pun akan beranjak untuk mengais rezeki di medan jihad saya, Unsulbar.
 
 
     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Mahasiswa Perikanan Gelar Lomba Karya Tulis Ilmiah, Peserta Berbagai Kampus Bawa Ide Menarik

Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang digelar Himapri