Salah satu organisasi mahasiswa Unsulbar, IKatan Mahasiswa Bidik Misi ( IMBISI ) memilih sistem Pemilihan Umum ( Pemilu ) Raya dalam pemilihan ketua – wakil ketua IMBISI.
Kendati sempat muncul opsi pemilihan dengan sistem perwakilan, namun IMBISI lebih memilih pemilihan pemimpin dengan melibatkan semua mahasiswa penerima bidik misi tanpa terkecuali.
Pilihan menggunakan sistem Pemilu Raya oleh organisasi mahasiswa IMBISI menuai banyak apresiasi dan pujian baik dari berbagai pihak.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Hikmah Sudirman mengaku salut atas sistem Pemilu Raya yang diterapkan organisasi IMBISI.
Menurut mahasiswa program studi Akuntansi ini, Pemilu Raya dalam memilih pemimpin mahasiswa lebih adil dan demokratis.
” Seperti pemilihan presiden, semua warga negara punya hanya yang sama memilih pemimpin, jadi untuk pimpinan organisasi mahasiswa, harusnya semua mahasiswa anggota organisasi bersangkutan mendapat hak yang sama,” kata Hikmah.
Hikmah yang merupakan salah seorang ketua tingkat di program studi Akuntansi berharap sistem Pemilu Raya dapat juga diterapkan di organisasi mahasiswa lainnya.
” Dengan memilih langsung kita akan tahu siapa yang akan menjadi pemimpin kita, kalau diwakili takutnya jangan sampai yang kita inginkan jadi pemimpin lain dengan pilihan yang mewakili kita,” kata Hikmah.

Foto : Suasana Pemilu Raya Presiden Mahasiswa UNG Gorontalo.
Senada dengan Hikmah, mahasiswa program studi Pendidikan Fisika, fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA ), Salmawati juga memberi apresiasi atas langkah IMBISI memilih ketua dengan cara Pemilu Raya.
Menurutnya, untuk memilih ketua organisasi kemahasiswaan, tidak perlu dibatasi bahwa yang bisa memilih hanya yang ikut pengkaderan di organisasi tersebut.
Di tataran berbangsa bernegara, semua warga negara bisa memilih baik itu kader organisasi partai politik atau bukan.
” Saran saya, untuk pemilihan di suatu organisasi mahasiswa semua mahasiswa bisa ikut, tapi untuk jadi pengurus harus ikut pengkaderan, agar tahu menjalankan organisasi, prinsipnya memilih itu hak semua anggota,”kata Salma.

Foto : Mahasiswi UNG setelah menyalurkan hak suara dalam pemilu presiden mahasiswa.
Pengalaman
Dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan ( Fapertahut ) Supardjo R. Carong yang dihubungi KARAKTER menceritakan pengalamannya saat menjadi aktivis mahasiswa di Unhas Makassar.
” Waktu saya aktiv di organisasi kemahasiswaan di Unhas, di tingkat HMJ dan atau BEM, kami selalu menggunakan sistem pemilu raya karena lebih aspiratif dan memberi rasa adil bagi semua,” kata Supardjo.
Kepada KARAKTER, kepala sub bagian Kemahasiswaan Unsulbar, Abdi Manaf mengungkapkan pandangan pribadinya tentang sistem pemilihan yang ideal.
Menurutnya, pemilihan pemimpin baik dengan cara perwakilan atau langsung sama – sama memiliki plus minus.
Abdi yang juga mantan aktivis mahasiswa menilai bahwa pemilu raya lebih ideal dalam memilih pemimpin.
Menurut Abdi, dengan melibatkan semua anggota organisasi memilih, maka anggota akan merasa memiliki organisasi dan aktiv di dalamnya.
” Kalau kita memilih langsung, tidak diwakili, rasa tanggung jawab sebagai anggota juga akan tumbuh, kita akan lebih aktiv berkegiatan di dalamnnya, karena sejak awal semua dilibatkan,” tambah Abdi yang pernah memimpin LSM Matraman di Sulbar.
Sementara itu, Dosen Ilmu Politik Unsulbar, Zainuddin Losi menyatakan sistem pemilihan baik langsung atau perwakilan tidak menjadi hal yang pokok, menurutnya sistem pemilihan hanya teknis semata.
” Menurut saya yang paling penting adalah calon yang dipilih harus sesuai syarat dan kriteria, Pemilihan langsung memang punya kelebihan tersendiri, kita lebih tahu calonnya, jadi tidak seperti membeli kucing dalam karung,” kata Losi yang juga alumni pasca sarjana Politik dari Malaysia. (RD01)

