Eksis Jadi Jurnalis, Semua Bisa Jadi Jurnalis

Eksis Jadi Jurnalis, Semua Bisa Jadi Jurnalis

- in Kabar Kampus
2315
0
Ilustrasi, Jurnalis perempuan sedang bertugas. ( Foto : Internet /oasepena.wordpress.com)

karakterunsulbar.com ( Makassar ) – Secara formal, untuk mendalami ilmu jurnalistik di perguruan tinggi berada di jurusan atau fakultas Ilmu Komunikasi.
Sejumlah perguruan tinggi bahkan secara khusus membuka program studi jurnalistik yang menyiapkan alumninya menjadi jurnalis

Namun fakta berbicara, banyak jurnalis dari dahulu sampai sekarang di tanah air, justru bukan berlatar belakang sarjana komunikasi.
Para jurnalis di Indonesia saat ini berasal dari beragam latar belakang keilmuan, dari Sosial Politik, Sains hingga Teknik.

Lalu bagaimana seseorang yang selama dia kuliah tidak secara khusus mempelajari dunia jurnalistik namun mampu menjadi seorang jurnalis handal, apa kunci suksesnya?

Jurnalis stasiun televisi Trans7, Roland Loganda menjelaskan tentang hal tersebut.
Roland yang juga penyiar berita menceritakan, Ia merupakan sarjana hukum.

Kuliah di fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat ) Manado, Roland awalnya bercita – cita menjadi pengacara atau aparat penegak hukum.
Namun saat menempuh perkuliahan di ilmu Hukum, dia tertarik dengan dunia jurnalistik.
Menurutnya dunia kewartanan sangat menarik, menebar kebaikan melalui informasi yang disajikan ke banyak orang.

” Awalnya saya tidak tahu apa – apa tentang jurnalis, tapi karena tekad yang kuat, saya terus belajar dan menimba ilmu dari para senior, akhirnya bisa seperti sekarang,” kata Roland.

Penulis (kedua dari kiri) bersama Roland (keempat dari kiri ) di workshop Eksis Jadi Jurnalis Trans7 di Makassar 16 – 17 Nopember 2017 ( foto : KARAKTER )

Menurutnya,  latar belakang keilmuan seseorang bukan penghalang untuk menjadi penulis, jurnalis.

Ia mengatakan, syarat utama menjadi pewarta adalah adalah minat, keinginginan. Dengan minat tersebut, sesorang akan termotivasi untuk terus belajar, mencari ilmu, mengasah skil menjadi seorang jurnalis.

Cerita Roland itu disampaikannya baru – baru ini saat menjadi salah satu pemateri dalam Workshop Redaksi “Eksis Jadi Jurnalis ” yang digelar Trans7 di kampus Unhas Makassar, 16 – 17 Nopember.
Saya dan sejumah mahasiswa Unsulbar jurnalis kampus KARAKTER menjadi peserta kegiatan tersebut.

Bersama 200 orang mahasiswa dan sejumlah siswa SMA dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, kami mengikuti workshop tersebut dalam bentuk penjelasan teori dan kemudian materi praktek.

Jurnalis memang menjadi profesi terbuka di tanah air, semua orang dari latar belakang keilmuan berpeluang menjadi pewarta, kendati demikian untuk menjadi jurnalis juga punya standar.

Pertama dan paling utama adalah sikap profesionalisme yang menunjukkan sebuah komitmen dan kesungguhan seseorang terhadap profesinya harus dilakukan.

Ilustrasi, wartawan tengah meliput perang. ( foto : Internet / http://hastawijaya.blogspot.co.id )

Jurnalis wajib memahami hakekat profesinya, mematuhi kode etik jurnalistik dan tentunya mempunyai skil terkait profesi jurnalis misalnnya dalam hal reportase mengolah informasi menjadi berita, antara lain menulis, wawacancara hingga editing.

Keahlian dan kepatuhan pada Kode Etik menjadi Hal yang wajib dimiliki jurnalis atau calon jurnalis, pasalnya karya jurnalistik yang dihasilkan akan dibaca atau didengar atau ditonton publik.

Sikap prorefesional sangat penting, bila terjadi kesalahan dalam pemberitaan misalnya, maka dampaknya bisa dapat sangat serius, oleh karena itu sesuai pesan pemateri dalam workshop, kita tidak boleh berhenti, harus terus belajar dan belajar. (RD01 )

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pemilihan Dekan FKIP Unsulbar : Lima Bakal Calon Bersaing

Sekretariat Panitia Pemilihan Dekan (Pildek) FKIP Unsulbar. (Foto