Foto: Nur Indah Sari Arbit (Sumber: Fb Nur Indah Sari Arbit)
Karakterunsulbar.com- Salah seorang dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), resmi meraih gelar Doktor (S3) dengan Beasiswa BPPDN (Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri) Kemenristekdikti di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Ia adalah Nur Indah Sari Arbit, dosen Program Studi Perikanan Fakultas Peternakan dan Perikanan Unsulbar. Ia mendapatkan gelar doktornya setelah mengikuti ujian Pra Promosi Doktor, Rabu, (19/03/2019).
Setelah ujian pra promosi tersebut, ujian Promosi Doktornya akan dilaksanakan di Aula Prof Harjoeno, Sps Unhas, Selasa, (09/04/2019) Pukul 10.00 Wita
Indah mendapatkan gelar doktornya dengan judul disertasi “Efek Skenario Peningkatan Emisi Karbon dan Pemanasan Global Terhadap Rumput Laut Gracilaria Changii”.
Rumput laut gracilaria changii merupakan jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan masyarakat. Menurut Indah, penelitian tentang rumput laut dapat memberikan konstribusi positif juga meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya sebagai sumber penghasilan.
“Selain meningkatkan kesejahteraan pembudidaya juga memberikan sumbangsi terhadap lingkungan,” jelasnya kepada karakterunsulbar.com, Minggu, (07/04/2019).
Dalam melakukan penelitiannya, ia merasa tertantang karena harus menunggu kurang lebih satu tahun peralatan dan bahan penelitian, yaitu serapan karbon yang langsung didatangkan dari luar negeri.
Penelitian dilakukan berbasis genetika molekural. Penentuan rumput lautnya menggunakan motode filogenetika molekural, dan juga salah satu jenis penelitian sulit, mahal dan pertama kali di Sulawesi Barat (Sulbar).
Ia berharap, kedepan Unsulbar dapat melihat potensi rumput laut Sulbar sebagai lembaga pendidikan dan penelitian
“Tantangan buat Unsulbar untuk pengembangannya sebagai Institusi pendidikan dan penelitian,” jelasnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya dengan beasiswa, agar mempersiapkan sejak dini dengan melihat persyaratan, berkas pendukung, kompetensi skill, akhlak karena seleksi wawancara beasiswa membutuhkan itu.
“Mahasiswa harus punya kompetensi skill,” tambahnya.

