Menkomdigi Meutya Hafid menyampaikan sambutan dalam “Literasi Keuangan Digital dan Workshop Penulisan Ilmiah Populer” LPP Karakter Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), 11/06/2026 di aula Theater Unsulbar. ( Foto : Ist )
karakterunsulbar.com — Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh hanya menjadi konsumen pasif di tengah masifnya arus transformasi digital. Menyongsong visi Indonesia Emas 2045, generasi muda justru harus mengambil peran sebagai motor penggerak siber yang mampu membentengi masyarakat dari ancaman finansial digital.
Pesan kuat tersebut disampaikan Menkomdigi secara virtual dalam pembukaan acara “Literasi Keuangan Digital dan Workshop Penulisan Ilmiah Populer” yang diinisiasi oleh Lembaga Penerbitan dan Penyiaran Karakter Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), 11/06/2026 di aula Theater Unsulbar, Kampus Padha-Padhang, Tande Timur, Majene.
Meutya yang juga mantan jurnalis senior itu menjelaskan, pentingnya kolaborasi multi pihak untuk ekosistem Kampus yang Sehat
Hadir dalam ruang edukasi tersebut jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Barat, BI Sulbar serta perwakilan operator seluler Telkomsel.Acara diiikuti ratusan mahasiswa Unsulbar bersama para dosen.
Menteri Meutya mengapresiasi kegiatan LPP Karakter Unsulbar sebagai langkah nyata membangun ekosistem digital yang bersih di lingkungan perguruan tinggi.
“Transformasi digital adalah salah satu pilar penting menuju Indonesia Emas 2045. Namun, kemajuan digital harus berjalan bersama literasi, kehati-hatian, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko di ruang digital,” ujar Meutya Hafid.

Dalam sambutannya, Meutya secara khusus menyoroti dua momok menakutkan yang tengah mengintai usia produktif dan civitas akademika: judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) ilegal. Fenomena ini disebutnya telah menjadi “lampu kuning” yang mengancam ketahanan sosial-ekonomi bangsa.
Melihat realita yang kian mengkhawatirkan ini, Menkomdigi menilai kampus memiliki posisi tawar (bargaining position) yang sangat kuat untuk melakukan intervensi edukatif secara langsung kepada masyarakat.
“Kampus memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi, ruang kritis, sekaligus motor perubahan perilaku digital masyarakat,” tegas Meutya.
Pesan Penting
Di akhir sambutannya, Meutya Hafid menitipkan pesan penting bagi mahasiswa selaku agen perubahan, antara lain; Menjadi Agen Literasi: Mahasiswa dituntut aktif turun ke masyarakat untuk mengedukasi lingkungan sekitar mengenai bahaya nyata kejahatan siber; Menyebarkan Konten Positif: Generasi muda harus mampu memilah, menyaring, dan membagikan informasi yang benar, aman, serta membawa manfaat nyata.
Pesannya yang ketiga adalah meningkatkan produktivitas: Meutya berharap terjadi peningkatan kemampuan literasi digital dan keuangan untuk mendongkrak kualitas serta bobot karya ilmiah popular.
“Saya harap para mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna dari teknologi, tapi juga menjadi agen literasi digital,” pungkas Meutya. ( RD01)

