Harapan Sederhana Terhadap Peran Pembinaan BAN-PT

Oleh : Dr. Nur Fitriayu Mandasari, SE, M. Si ( Dosen Prodi Manajemen, Fak. Ekonomi, Unsulbar )
Sebagaimana diketahui, pada Bulan Mei dan Juni 2017, beberapa Program Studi di Universitas Sulawesi Barat kedatangan “tamu” istimewa. Tamu istimewa tersebut tidak lain adalah para asesor yang ditugaskan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi di Indonesia. Para asesor tersebut merupakan orang-orang pilihan dari Perguruan Tinggi besar di seluruh Indonesia, dengan salah satu syaratnya adalah mereka pernah menjadi pengelola (baca: pejabat struktural) di Program Studi atau Fakultas yang terakreditasi A.
Diketahui pula beberapa bulan sebelumnya, yaitu Bulan Februari, Prodi-prodi tersebut mendapat “surat cinta” dari Biro Akademik Universitas Sulawesi Barat, untuk segera merampungkan berbagai dokumen akreditasi yang akan dikirim ke BAN-PT untuk direview kelayakan visitasinya.
Kesibukan Hingga Kegalauan
Keriuhan berawal dari situ. Penulis mengatakan keriuhan karena momen-momen penyusunan Borang IIIA, IIIB dan Evaluasi Diri Prodi, selalu penuh dengan kesibukan, kehebohan, hingga kegalauan para pengelola sebuah Universitas, khususnya di tingkat Prodi dan Fakultas.
Keriuhan tersebut mungkin tidak akan terlalu riuh jika bukan karena adanya deadline. Rupanya jangka waktu 5 tahun dari visitasi sebelumnya di tahun 2012 tidak cukup banyak untuk menyempurnakan borang akreditasi tersebut. Mengingat pula adanya peraturan baru bahwa sertifikat akreditasi juga setara dengan Izin Operasional Program Studi, serta kejar-kejaran dengan berlakunya proses akreditasi secara Online yang konon lebih rumit.
Bagi Unsulbar, jangka waktu 5 tahun itu memang tidak cukup. Bukan karena malas atau lalai, melainkan karena banyak hal. Melainkan karena Universitas yang kita banggakan ini, tengah mengalami fase jatuh, bangun, jatuh dan kemudian bangun lagi hingga bisa tegap berdiri seperti saat ini. Namun, apakah ada Standar dalam Borang yang mengakomodir tentang kemampuan Prodi/Fakultas/Universitas dalam mengelola konflik? Silahkan jawab sendiri.
Penyebab Keriuhan
Keriuhan itu juga disebabkan oleh kesibukan pengelola mempersiapkan dokumen-dokumen pendukung. Baik dosen maupun staf bekerja sama dan bekerja keras bahkan hingga larut malam, meninggalkan keluarga selama beberapa waktu demi masa depan anak bangsa.
Keriuhan itu juga termasuk kegiatan “bersih-bersih”. Menata ruang-ruang prodi, fakultas, maupun kelas-kelas dengan berbagai atribut untuk menunjukkan bagaimana kondisi ideal itu seharusnya.
Keriuhan lain adalah pengangkutan dan pengaturan buku-buku di perpustakaan, menghubungi unsur mahasiswa, alumni, maupun para pengguna alumni untuk ikut terlibat dalam event besar setiap 5 tahun sekali bagi Prodi dan Fakultas ini. Belum lagi hebohnya koordinasi mempersiapkan penjemputan, akomodasi bahkan hingga menu makanan yang kiranya cocok dengan selera tamu dan khas daerah setempat.
Keriuhan itu melelahkan, namun di satu sisi menyenangkan. Menyenangkan karena pengelola, dosen dan staf menjadi kompak untuk satu tujuan, yaitu menyukseskan visitasi akreditasi Prodi atau Fakultasnya. Menyenangkan karena seringkali di tengah-tengah lelahnya mempersiapkan dokumen saat malam telah larut, banyak yang berempati mengantarkan penganan sekedar gorengan pisang atau martabak bagi yang bekerja.
Melalui tulisan ini penulis ingin menggugat dan bahkan menagih peran pembinaan dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. Mungkin kebetulan mungkin pula tidak, bahwa penulis pernah menghadapi 2 kali visitasi akreditasi selama mengabdi di Unsulbar.
Pertama di tahun 2012, di mana waktu itu penulis masih berusia 27 tahun dan telah mendapat tanggung jawab sebagai Kaprodi, dengan kondisi yang minim pengetahuan dan pengalaman, apalagi pembinaan. Dan tentu saja minim fasilitas pada saat itu mengingat Universitas baru berdiri di tahun 2009. Di tahun 2012, prodi kami menerima visitasi asesor di Bulan Ramadhan, yang syukurnya berjalan lancar, meskipun kami divisit oleh asesor yang tidak berpuasa.
Masukan yang diterima oleh Prodi sangat banyak dan bernilai. Dan sepertinya asesor cukup banyak memahami kondisi sebuah perguruan tinggi baru. Beberapa saat setelah visitasi, prodikami mendapat sertifikat akreditasi C. Sama halnya dengan visitasi tahun 2017, masukan dan bimbingan yang berharga cukup banyak didapatkan oleh Prodi kami. Namun kondisi penuh tantangan yang terjadi selama rentang waktu dari visitasi sebelumnya di tahun 2012 beserta berbagai implikasinya terhadap kinerja Prodi/Fakultas, nampaknya tidak menjadi pertimbangan.
Prodi adalah Pengantinnya
Pada tahun 2012 itu pula Unsulbar memasuki masa-masa penuh tantangan. Tanpa perlu menceritakan secara detail, masa-masa konflik tersebut memiliki implikasi beberapa hal, di antaranya: (1) banyak mahasiswa yang kemudian tidak aktif, baik dengan pemberitahuan maupun tanpa pemberitahuan, (2) bagian keuangan dan akademik banyak kehilangan data-data penting, (3) banyak dosen yang tidak bersedia lagi mengajar karena ketidakstabilan yang terjadi.
Karena komitmen dan kecintaan kepada kampus merah marun ini, beberapa dosen dan staf tetap bertahan, dan berjanji untuk tetap menjalankan roda perkuliahan, meskipun dengan segala keterbatasan. Hal ini bagi kami penting, karena mahasiswa harus tetap mendapatkan pengajaran dan Unsulbar harus tetap eksis di tengah-tengah masyarakat.
Tahun 2012, 2013 dan 2014 memang masa-masa sulit, mungkin ada dosen yang sampai mengabaikan riset atau pengabdian, dan mungkin ada staf yang sampai lalai dalam dokumentasi akademik maupun keuangan. Tapi kami tetap berdiri dan mengabdi.
Meskipun kondisi sudah mulai stabil di tahun 2015 dan seterusnya, cobaan seakan tidak pernah surut untuk menguji Universitas ini.
Dibawah kepemimpinan Rektor Akhsan Djalaluddin, dan dengan jajaran Dekan serta pejabat struktural yang sudah terisi,Unsulbar terus mencoba bangkit meskipun masih dengan berbagai keterbatasan di sana sini.
Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, Prodi merupakan ujung tombak jalannya Fakultas dan Universitas. Hal ini pun menjadi pengingat bagi penulis.
Dari sekian banyak konsultasi dengan dosen-dosen penulis sejak S1 hingga S3 di sebuah PTN yang juga merupakan asesor BAN-PT, ibarat hari pernikahan, maka Prodi adalah pengantinnya.
Prodi memiliki peranan vital dalam jalannya sebuah Universitas. Betapa besarnya tanggung jawab itu. Namun apakah Prodi memiliki sumber daya yang memadai untuk menjalankan peran pentingnya itu?
Peran BAN – PT
Kembali pada keriuhan visitasi akreditasi di tahun 2017 di Kampus Unsulbar, serta topik menggugat peran pembinaan BAN-PT.
Minimal ada 4 (empat) hal yang menurut penulis hilang dari peran pembinaan tersebut, yaitu sosialisasi, evaluasi dan konsultasi, serta konsistensi.
Sosialisasi dalam hal ini terkait dengan berbagai penilaian dalam Borang IIIA dan IIIB.
Sosialisasi tentang poin-poin apa yang seharusnya penting untuk dijaga dan ditingkatkan nilainya bagi Prodi dan Fakultas. Sosialisasi tentang peraturan-peraturan baru akreditasi yang harus diikuti oleh Prodi agar memiliki kesamaan persepsi dengan asesor.
Sosialisasi tidak hanya untuk perwakilan Universitas, melainkan untuk setiap Kaprodi atau perwakilan Tim Penyusun Borang, khususnya Universitas di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) di Indonesia.
Sosialisasi selama ini memang ada, namun tidak merata. Jika dikatakan BAN-PT memiliki keterbatasan anggaran maupun sumber daya untuk melakukan sosialisasi secara merata dan intens di Prodi-prodi seluruh Indonesia, apa bedanya dengan Fakultas/Prodi tertentuyang juga tidak memiliki anggaran sendiri untuk mengadakan workshop Penyusunan Borang? Adakah solusi untuk itu?.
Hal penting kedua adalah tidak adanya evaluasi rutin terhadap tindak lanjut rekomendasi asesor visitasi. Sejauh mana Prodi dan Fakultas telah berhasil melakukan perbaikan dan kemajuan sesuai hasil rekomendasi asesor, tidak mendapatkan penilaian secara rutin. Seharusnya kemajuan dan perbaikan Prodi dievaluasi setiap tahun, oleh Asesor yang memberikan rekomendasi tersebut.
Hal ini penting sebab Prodi maupun Fakultas tidak memiliki ukuran yang valid dan kewenangan untuk menilai dirinya sendiri. Tanpa evaluasi, asesmen pada saat visitasi tidaklah bisa disebut sebagai pembinaan, sebab tidak ada penilaian terhadap output dan outcomehasil rekomendasi oleh penilai pertama.
Yang ada hanyalah penjurian untuk menetapkan suatu Prodi/Fakultas itu baik atau tidak, mendapat nilai A, B, atau C seperti halnya dosen memberikan nilai akhir semester hanya dengan melihat kinerja mahasiswa pada saat Ujian Final. Ironisnya, penilaian yang dilakukan selama 2 hari (bahkan kurang) tersebut, akan menentukan nasib Prodi dan bahkan lulusan dalam jangka waktu yang lama, yaitu 5 tahun.
Meskipun diasumsikan asesor tetap obyektif pada saat visitasi dengan kondisi letih sehabis 8 jam perjalanan darat dari Makassar-Majene, dalam ruangan yang tidak berpenyejuk saat visitasi, atau mungkin dalam kondisi tidak cocok dengan makanan daerah setempat yang disajikan, hal tersebut masih dirasa kurang fair.
Berdasarkan pengalaman penulis,asesor memang telah dalam kondisi siap menerima segala keterbatasan kenyamanan dari Universitas/Prodi yang divisitnya, apalagi kalau prodi tersebut terletak di daerah kecil. Sepanjang kebutuhan dasar asesor terpenuhi, yaitu transportasi, akomodasi dan konsumsi yang baik dan layak. Seyogyanya, dalam jangka waktu 5 tahun tersebut dilakukan evaluasi tahunan terhadap kemajuan dan perkembangan Prodi oleh Asesor penilainya, disertai dengan konsultasi akan apa yang masih dirasa kurang dan menjadi hambatan.
Konsultasi inilah yang menjadi unsur penting dalam peran pembinaan tersebut. Alangkah baiknya jika dalam proses evaluasi tersebut, Prodi juga diberikan ruang untuk melakukan konsultasi, menyampaikan keluhan-keluhan tentang berbagai tantangan dan hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan, agar dapat diberi masukan oleh asesor penilai tentang bagaimana cara mengatasinya. Atau minimal asesor tersebut memberikan rujukan untuk berkonsultasi ke mana dan pada siapa.
Konsultasi tidak perlu dengan melakukan visit besar-besaran. Mekanisme sederhana seperti pemaparan dan diskusi di daerah asal atau institusi homebaseasesor, mungkin dengan memperlihatkan foto-foto sebagai bukti pendukung, juga dapat dilakukan. Tidak perlu waktu lama, cukup beberapa jam dalam sehari atau dua hari. Keterbukaan dan kejujuran akan lebih terasa.
Unsur terakhir yang seharusnya ada pada pembinaan oleh BAN-PT terhadap Prodi dan Fakultas adalah konsistensi. Yang terjadi selama ini adalah, asesor yang melakukan visitasi dalam jangka waktu 5 tahun adalah orang yang berbeda, yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang kondisi awal Prodi yang akan dinilai.
Visitasi
Sekali lagi dalam kondisi obyektif pun setiap asesor tentu memiliki perspektif yang berbeda dalam menilai suatu Prodi. Alangkah fair jika yang dinilai adalah bukan kondisi Prodi itu saat divisit melainkan apa yang sudah dicapai oleh Prodi dalam jangka waktu 5 tahun terakhir.
Mungkin bisa dikatakan, penilaian dilakukan dengan membandingkan kondisi Prodi sekarang dengan kondisi Prodi sebelumnya, bukan dengan membandingkan kondisi prodi saat ini dengan kondisi Prodi yang ideal seharusnya. Meskipun penilaian tidak bisa sepenuhnya seperti itu, setidaknya bisa dijadikan salah satu unsur penilaian.
Para asesor yang berasal dari Prodi dan Perguruan Tinggi mapan tentu masing-masing membawa memori dan kesan yang ideal tentang Prodi tempatnya bertugas (homebaseasesor). Kesan tentang kondisi ideal itu akan dibawa masuk pada suatu kondisi yang (biasanya) jauh dari ideal saat visitasi.
Untuk melakukan verifikasi biasanya Prodi akan diminta memberikan dokumen-dokumen dan bukti fisik. Bila Prodi tidak dapat memberikan dokumen yang dimaksud, maka asesorseyogyanya bertanya, “mengapa tidak dibuat? Apa hambatannya? Maka begini solusinya..”.
Dalam pembinaan yang baik, diskusi dan keterbukaan harusnya menjadi poin utama, bukannya menutup-nutupi kekurangan yang dimiliki Prodi dan hanya semata-mata berusaha memberikan kesan baik pada asesor, seperti yang selama ini terjadi.
Berbagai hal yang disampaikan oleh penulis di atas merupakan harapan terhadap peran pembinaan Program Studi dan Fakultas, khususnya oleh BAN-PT. Penulis mengharapkan bahwa 5 tahun yang akan datang, tidak lagi merasa galau saat menyelesaikan Borang ataupun saat mendengar berita akan divisitasi pada H-5.
Kejujuran
Penulis mengharapkan tidak lagi harus melakukan settingan di sana-sini untuk menutupi berbagai kekurangan, melainkan menampilkan kondisi apa adanya, dan acara “bersih-bersih” dilakukan hanya untuk menyambut tamu asesor dengan suka cita. Penulis mengharapkan dapat mengungkapkan secara jujur dan terbuka masalah-masalah apa yang dihadapi Prodi, dengan mengharapkan masukan-masukan dan solusi dan bukannya penilaian sebatas angka di atas kertas.
Penulis mengharapkan, 5 tahun yang akan datang akan menyambut secara sukacita kedatangan asesor sebagai ajang untuk mendapatkan ilmu dan pembinaan sebanyak-banyaknya.
Penulis mengharapkan, di masa yang akan datang, rekomendasi perbaikan tidak hanya semata disampaikan kepada Prodi dan Fakultas, tetapi juga kepada Universitas, Kemristekdikti, kepada Badan Penyelenggara (Yayasan) dan Kopertis untuk Perguruan Tinggi Swasta, bahkan pada para pihak yang berwenang mengalokasikan anggaran, bahwa Universitas yang ada pada daerah 3T ini merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tanggung jawab Prodi.Semua pihak harus berkomitmen untuk menyokong dan memberikan apa yang dibutuhkan (baca: anggaran dan pembinaan) untuk meningkatkan kinerja Prodi dan Fakultas.
Sebagaimana diutarakan oleh founding father Universitas Sulawesi Barat, Dr. Rahmat Hasanuddin, MSi saat menjamu asesorProdi Manajemen dan Prodi Akuntansi pada Bulan Mei lalu, yaitu bahwa ada 1 (satu) elemen yang luput menjadi penilaian dalam Akreditasi, yaitu komitmen atau goodwill dari para dosen dan pengelola Prodi, Fakultas dan Universitas untuk memberikan yang terbaik kepada para stakeholder, utamanya mahasiswa, di tengah berbagai keterbatasan. Tidak banyak universitas yang memilikinya.
Tetap Optimis
Hingga tulisan ini dibuat, beberapa Prodi di Universitas Sulawesi Barat telah mengetahui hasil penilaian Akreditasinya, beberapa di antaranya masih dengan nilai minimum. Apakah kami sedih? Mungkin. Apakah kami kecewa? Pasti.
Namun tidak seharusnya kami terus meratapi hasil ini. Masih panjang perjuangan untuk mencapai cita-cita luhur Universitas Sulawesi Barat. Sebab kami menyadari, Universitas Sulawesi Barat lahir dari perjuangan dengan tujuan untuk membangun peradaban yang maju dan mulia. Universitas Sulawesi Barat harus bangkit dan tegar, menunjukkan prestasi untuk bangsa dan negara. (RD01)
Catatan : tulisan di atas adalah berdasarkan pengalaman, penulis menyadari bahwa kesan visitasi berbeda untuk setiap Prodi. Jika ada di antara pembaca yang memiliki kesan dan pendapat berbeda, penulis menerima segala bentuk kritik yang santun dan membangun, diskusi tentu akan lebih baik.

