karakterunsulbar.com – “Sekarang pejamkan mata tiga menit, dan bagi yang mau jadi wartawan silahkan angkat tangan,”, kalimat meluncur deras dari Upi Asmaradhana, mangawali materinya siang itu di Pendidikan dan Latihan (Diklat) Jurnalistik Dasar Mahasiswa Lembaga Penerbitan dan Penyiaran ( LPP ) KARAKTER Unsulbar.
Mendengar permintaan itu, para mahasiswa peserta yang baru saja bersua dengan Upi, kompak menutup mata. Suasana dihari kedua Diklat menjadi hening.

Sambil terus menatup mata, para mahasiswa peserta Diklat kemudian satu per satu mengangkat tangan. Sekuel yang menggambarkan para peserta seakan sudah bersumpah siap menjadi jurnalis
“Saya ingin memberi informasi yang dapat membawa manfaat bagi banyak orang,” jawab seorang peserta Diklat, Putri Sundari, sambil terus menutup mata saat ditanya Upi, mengapa memilih siap jadi wartawan?.
Alasan puluhan mahasiswa lainnya yang juga mengangkat tangan hampir semua sama, bahwa dengan menjadi jurnalis akan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Lima orang memilih tidak mengangkat tangan, mereka beralasan masih perlu mengetahui lebih dalam tentang dunia jurnalistik sebelum akhirnya betul-betul menetapkan pilihan menjadi pewarta.
Adegan menutup mata dari sebelum mendapat pertanyaan hingga menyampaikan alasan siap menjadi wartawan, menjadi salah satu rangkaian menarik dalam Diklat Jurnalistik Dasar Mahasiswa LPP KARAKTER Unsulbar yang digelar akhir pekan kemarin di Majene.

Episode menarik lain dari materi Upi adalah selama sekitar 3 jam menerima materi, para peserta tetap berdiri di tempat masing – masing dan tidak dibiarkan mencatat.
“Saat ini belum perlu mencatat, cukup anda semua simpan di memori kepala masing – masing, bahwa dengan menjadi penulis, hidup akan lebih bermanfaat bagi banyak orang,” tegas Upi yang juga koordinator Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ) wilayah Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara.
Kepada para mahasiswa, Upi yang sejak mahasiswa sudah menjadi wartawan mengatakan, Sebaik – baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesama.Ia menguraikan, jurnalisme bisa menjadikan manusia bermanfaat bagi banyak orang.
” Dengan menjadi jurnalis kita dapat menyampaikan informasi yang berguna bagi banyak orang, juga bisa menjadi alat untuk pendidikan masyarakat, memberi hiburan dan alat kontrol yang tentunya sangat sesuai dengan idealisme kawan – kawan mahasiswa,” katanya dengan penuh semangat.

Burung Pemakan Bangkai di Sudan
Menurut Upi, kendati menjadi jurnalis dapat menjadi pintu untuk membawa manfaat bagi banyak orang, namun tantangan sebagai seorang wartawan juga tidaklah mudah.
Kekerasan hingga pembunuhan adalah sebagian resiko menjadikan jurnalis sebagai pilihan hidup. Belum lagi dalam banyak kisah – kisah wartawan, diceritakan tentang bagaimana seorang wartawan harus memilih antara melaksanakan tugas dengan profesional atau mengikuti pilihan non jurnalistik.

” Kisah Cevin Carter saat meliput bencana kelaparan di Sudan adalah salah satu bukti nyata bagaimana tantangan wartawan ketika berada di lapangan bertugas,” ungkap Upi.
Cerita tentang Carter, Ia adalah seorang jurnalis foto Afrika Selatan. Carter menjadi pemenang penghargaan fotografi Pulitzer Prize untuk karyanya, foto seorang anak dan burung bangkai di Sudan pada tahun 1994.

Dalam banyak tulisan dikisahkan, Carter saat meliput pemberontakan di Sudan menemukan hal yang lebih parah dari kisah peperangan. Ia menemukan seorang anak perempuan menangis sedang duduk bersujud di atas tanah tidak jauh darinya. Anak yang sama sekali tidak mengenakan pakaian tersebut sedang duduk melepaskan lelah karena tidak berdaya lagi. Tidak jauh darinya, tampak seekor burung pemakan bangkai sedang berdiri memperhatikan dan menunggu kematian anak tersebut.
Namun, Carter tidak segera mengambil kameranya, tetapi menunggu sang burung meninggalkan anak itu. Akan tetapi setelah dua puluh menit menanti, burung itu tak juga pergi, Carter segera mengambil gambar anak tersebut dan kemudian menuju ke tempat lain.

Foto tersebut kemudian naik di majalah New York Times. Banyak orang yang menanyakan nasib anak itu apakah anak perempuan itu hidup atau mati dimakan burung pemakan bangkai.
Setahun kemudian, tanggal 2 April 1994, Kevin Carter mendapat kabar dari redaksi New York Times, bahwa fotonya telah dipilih sebagai pemenang utama fotografi Pulitzer Prize. Carter menerima penghargaan itu tanggal 23 Mei 1994 di Colombia University, Amerika Serikat.
” Sebelum kita memulai materi ( fotografi,- ) mari kita bersama – sama menonton film Bang – Bang Club, ini kisah tentang perjuangan jurnalis foto,” kata Ridwan Alimuddin, ketua AJI kota Mandar, Sulbar yang menjadi pemateri di sesi lainnya. Film itu berkisah tentang Carter dan rekan – rekannya meliput sejumlah moment penting di berbagai negara.

Menurut Ridwan yang hari itu membawa puluhan peralatan fotografi dalam tiga tas besar, jurnalis foto memiliki peran yang sangat strategis dalam menyampaikan kabar ke khalayak.
Carter banyak disorot publik, namun disisi lain, dengan fotonya tersebut, bantuan kemudian mengalir deras ke lokasi bencana kelaparan.
” Selain soal alat, fotografi jurnalistik juga harus didukung oleh skill, siapa yang memegang alat, itu yang utama,” kata Ridwan sambil menjelaskan berbagai jenis kamera dan lensa dengan masing – masing kelebihannya.

Jurnalime Masa Depan
Diklat Jurnalistik Dasar LPP KARAKTER juga menampilkan sejumlah pemateri handal lainnya, mereka adalah para wartawan senior, antara lain ; dosen komunikasi yang juga redaktur Fajar 1997 – 2017 Dian Muhtadiah Hamna, Pimpinan Radar Sulbar Muhammad Ilham, Humas Astra Mochammad Husni serta kapolres Majene AKBP Asri Effendi.

Dian membawakan materi tentang bagaimana jurnalisme di masa depan dimana para wartawan dituntut untuk mengusai multi skill, mulai menulis, fotografi, videografi dan editing.
Muhammad Ilham banyak menguraikan perihal proses produksi di dapur redaksi, sedangkan Mohammad Husni yang tampil di hari pertama menjelaskan cerahnya masa depan penulis atau jurnalis. Sementara Kapolres AKBP Asri tampil menjelaskan tentang bagaimana pengenalan fotografi termasuk olah foto.

Di hari terakhir pelaksanaan diklat, pemateri Upi Asmaradhana bersama Dian Muhtadiah memberi materi praktek. Para mahasiswa peserta diklat diberi tugas membuat bulletin. Awalnya para mahasiswa dibagi kelompok, kemudian melakukan praktek manajemen redaksi, lalu melalukan peliputan ke lapangan dan ditutup dengan pembuatan bulletin.
“Alhamdulillah acaranya luar biasa, selain karena pematerinya adalah para wartawan senior, juga karena memadukan antara teori dan praktek, ini akan sangat bermanfaat bagi kami,” kata seorang peserta, Nurhasyim dari fakultas MIPA.

Membangun Jiwa
Pimpinan LPP KARAKTER Unsulbar, Farhanuddin, M.Si menyatakan Diklat Jurnalistik Dasar angkatan ke-2 tersebut memfokuskan pada “pembangunan jiwa” calon pewarta tentang jurnalistik.
Ia mengatakan materi – materi yang disuguhkan kepada peserta selama 3 hari lebih banyak pada pengenalan, dasar – dasar jurnalistik dan terutama memberikan motivasi bahwa jurnalisme banyak membawa manfaat bagi pribadi dan orang banyak.

” Setelah diklat ini, LPP KARAKTER akan melanjutkan dengan kegiatan in house training, fokusnya “membangun raga”, maksudnya kita akan melatih keterampilan menulis, foto dan video secara lebih teknis,” kata dosen yang juga jurnalis MetroTV Sulawesi Barat ini.
Kisah Burung Pemakan Bangkai hingga berpanas – panas meliput praktek di lapangan menjadi keping – keping kisah menarik yang diharapkan menumbuhkan motivasi dan spirit berbuat yang terbaik bagi publik ( RD01)

