karakterunsulbar.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM ) Fakultas Ilmu Kesehatan ( FIKES ) Unsulbar memperingatan Hari AIDS se-dunia dengan menggelar aksi simpatik, Sabtu (02/12).
Puluhan mahasiswa Ilmu Kesehatan tersebut melakukan pembagian bunga, balon serta selebaran yang berisi ajakan untuk bersama – sama mencegah penyebaran AIDS.
Aksi simpatik mahasiswa Ilmu Kesehatan itu berlangsung di bundaran tugu perjuangan, kawasan pusat pertokoan Majene.
Selain membagikan bunga, balon, dan selebaran, mahasiswa juga menggelar orasi secara bergantian.
Dalam orasinya itu, mahasiswa menyerukan kepada masyarakat tentang pentingnya memahami ancaman penyebaran virus HIV dan penyakit AIDS.

Di spanduk yang dibentangkan peserta aksi damai, mahasiswa mengkampanyekan agar semua pihak, terutama generasi muda untuk menjauhi perilaku seks bebas agar terhindar dari HIV / AIDS.
Disamping melalui perilaku seks bebas, penyebaran virus HIV/ AIDS juga melalui narkoba.
” Kami melakukan kegiatan ini untuk memberikan sosialisasi kepada masyrakat Majene tentang bahaya dari penyakit ini, apalagi sampai saat ini belum ditemukan obatnya, mari kita sama – sama mencegah,” ungkap ketua pelaksana, Sapri, yang juga mahasiswa Keperawatan angkatan 2016.

Tentang HIV / AIDS
Dikutip dari wikipedia.org, AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor.

Penyebab penyakit AIDS yang sampai kini belum ada obatnya itu antara lain : seks bebas, narkoba khususnya pengguna jarum suntik serta penularan dari ibu positif HIV/AIDS ke anaknya.
Data yang dilansir pemerintah melalui www.kemenpppa.go.id, di Indonesia tahun 2014 terdapat 501.400 kasus HIV/AIDS. Penderita HIV/AIDS sudah terdapat di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Penderita ditemukan terbanyak pada usia produktif, yaitu 15-29 tahun. (RD01)


