Puisi – Tritusema

Puisi – Tritusema

- in Sastra
1917
0

Oleh : Muh. Rifai (Ilmu Politik, 2017)

T R I T U S E M A

Gelap malam disebuah gubuk di bawah lampu yang redup, angin kian menerpa menyelinap disela-sela kayu bagai pencuri

Rasa dingin menyelimuti raga
namun jiwa membara bagai api neraka sebab keresahan tiada tara

Mulut-mulut mahasiswa mulai melontarkan pernyataan serta pertanyaan lama berkomat-kamit menghasilkan tritusema
Tiga tuntutan segelintir mahasiswa

Ini bukan tentang apa-apa melainkan tentang kampus kami yang membuat kami bertanya mengapa

Mengapa uang kuliah tunggal begitu mahal ?
Mengapa jas almamater dulu di bayar lalu di gratiskan dan di bayar lagi ?
Mengapa pengumuman penerima bidikmisi belum terpampang ?
Mengapa ?

Di malam-malam berikutnya ketikan tangan sang perasa yang mersakan penindasan menari-nari di depan layar menyusun abjad menjadi kata dari kata menjadi kalimat dari kalimat menjadi paragraf berisi landasan tritusema

Malam semakin larut
penglihatan mulai redup
tak mampu lagi berkedap-kedip sebab kopi pun telah lama berlalu

Ayam jantan berkokok di pagi hari
di balik jendela kaca pancaran sang surya menampakkan diri
tersadar diri pun berdiri dengan teguh pendirian

Nyala mesin roda berputar menuju gedung pinggir jalan raya
kami datang membawa sejuta rintihan dan tangisan para pejuang toga harap di ganti dengan senyuman

Semangat membara di jiwa para mahasiswa lama berkoar-koar orang tua tak kunjung datang

Sikaret hitam tergeletak
jari-jari memantik api memicu tindak anarkis
sosok berpakaian rapi menghalangi tangan dan kaki menggantikan mulut berbicara

Kami paham
bhinneka tunggal ika kami bukan gunting yang memisahkan persatuan
melainkan kami jarum yang menyatukan perpisahan

Selang waktu berlalu dengan lobi-lobi orang tua turun dari singgah sanah menemui anaknya di tengah keramaian kesempitan duduk melantai
adu mulut terjadi jawaban simpan siur kami pulang akan kembali

Waktu demi waktu berlalu
hingga tiba waktu kami kembali malu tak jadi benalu mempertanyakan hal yang lalu-lalu

Orang tua tak di tempat
via ponsel menyambung komunikasi instruksikan kelain tempat kami mengadu
adu mulutpun terjadi lagi

Berbagai data jawaban logis kebutaan penuh tanda tanya bagai gelap dalam kegelapan menemukan titik terang kami pulang dengan senyuman.

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Puisi: Terima Kasih Eyang Habibie

Foto: BJ Habibie Terima Kasih Eyang Habibie Oleh: