Suara Hati Seorang Anak Petani

Suara Hati Seorang Anak Petani

- in Sastra
3891
0

Sumber gambar : gunungkidulpost.com

Karakterunsulbar.com- Merenung dalam sujud, mencoba mensucikan kalbu bermunajab kepada rabb kusebut satu persatu suara hati. Ya rabb, aku hambamu yang berlumuran dosa, dan segala kekurangan yang ada. Pintaku jadikanlah hambamu kelak menjadi sebuah cahaya yang menerangi seluruh umat manusia dipenjuru dunia, terutama kedua manusia pelita dalam hidupku.

“Berdoa dengan tidak dibarengi usaha, sama dengan nol” kata ini sumber kekuatan dalam perjalanan menuju cahaya penerang umat manusia untuk meraih suara hati.

Perjalanan itu telah kulalui 20 tahun lamanya, namun tidak semudah dibayangkan. Dengan status hanya seorang anak petani dari kampung. Status hanya seorang anak petani dari kampung, bukan hal mudah.

Tidak semua keinginan dapat dipenuhi, terkadang harus menanggung malu demi sesuap nasi, terkadang harus menahan hati karena malu dengan teman-teman sekitar.

Namun kuyakin, pada firman tuhan ” tidaklah saya menciptakan manusia kecuali dalam bentuk sebaik-baiknya” ayat ini menjadi obat disetiap gundaku dan inilah bentuk terbaik dari tuhan untuk menjadi cahaya umat manusia.

20 tahun silam, langkahku dimulai pada sebuah titik lemah, jauh dari dua manusia pelita hidupku. Ayahku tak mengenal panas matahari membakar kulit mencari nafkah untukku, berusaha memenuhi keinginan walaupun aku tahu terkadang ia harus menanggung malu. Ibuku adalah wanita yang selalu memelukku disaat sedih, wanita yang pertama merasakan sakit ketika ku sakit, tak ada kata sanggup menggambarkan mereka dalam hidupku.

Pada saat itu umurku 12 tahun, yang harus menahan rindu dari pelita, untuk menjadi cahaya umat manusia terkhusus untuk ayah dan ibu.

Syukur alhamdulilah kepada rabb, sejak umur 12 tahun mulai merantau hinga sekarang umur 20 tahun, selalu diberikan nikmat untuk kuat walaupun itu berat.

Umur 18 tahun memasuki babak baru dalam perjalanan hidup, dengan memasuki perguruan tinggi sesuai dengan bidang ilmu cita-cita. Alhasil waktu itu, salah satu momen terberat karena aku masuk pada bidang ilmu yang bukan keinginan.

Namun kuterima karena firman Tuhan “tuhan memberikan hamba-nya yang ia butuhkan, bukan yang diinginkan. karena boleh jadi keinginan itu, buruk untuk hambanya. tuhan maha tahu”.

Kujalani takdir tuhan, dalam perjalanan itu kutemukan makna mengapa tuhan pada saat umur 18 tahun lalu tidak mengabulkan keinginan ku, jawabannya adalah karena keterbatasan biaya. Aku menangis, sedih namun kuingat firman tuhan.

Perjalanan ini terasa berat, disetiap sujud kumenteskan air mata bermunajab kepada rabb. Ya rabb, sanggupkan seorang anak petani bernama Irwan dari sebuah kampung di Malunda tepatnya Desan Lombang Timur, Dusun Panappo, agar kelak mampu menjadi cahaya untuk umat manusia terutama kedua pelitanya.

Sanggupkan ia membangun surga di dunia untuk Ayah dan Ibunya hingga akhirat, sanggupkan keinginannya untuk mengajak kedua pelitanya ke tanah suci yaitu Mekkah, sanggupkanlah ia menjadi anak yang sholeh karena hanya dua yang tidak akan terputus ketika kedua pelita meninggalkannya amal jariyah dan doa anak sholeh. Biarkan mereka bersatu di akhirat kelak bersama orang yang ia sayangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Puisi: Terima Kasih Eyang Habibie

Foto: BJ Habibie Terima Kasih Eyang Habibie Oleh: