Cerpen: Kesia-siaan

Cerpen: Kesia-siaan

- in Kabar Kampus
1329
0

Penulis: Irfan (Ilmu Hukum, 2017)

Cerpen: Kesia-siaan

Karakterunsulbar.com – Cinta pasti dirasakan setiap manusia karena itu memang manusiawi. Rasa yang begitu sulit untuk dijelaskan dengan lisan, sekarang aku merasakan hal yang sama, rasa yang begitu menggebu dalam dada memaksa untuk memikirkannya setiap saat.

Dengan alis bersambung dan senyum yang melintang indah diwajahnya membuat seisi dunia menjadi hampa, berharap dimasa depan kelak dia yang akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anakku.

“Astagafirullah, huumm ada-ada saja,”

Sadarku dalam lamunan  yang panjang dengan rasa was-was.

“Wahh lima belas menit lagi masuk nih,”

Kunikmati sejenak kopi yang  lumayan panas, kulirik jam sembari kubereskan buku yang akan kubawah menuju kampus.

“tuuuzzzt…,”

Bunyi gawai dalam saku jaket ku, kulihat pesan WhatsApp dari sahabat karibku Raihan, dengan teks yang tersusun rapi dan sopan disetiap kutip katanya. Sahabat yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan termasuk mengingat Allah, bahkan setiap sholat dialah yang pertama mengingatkanku setelah azan berkumandang.

“Assalamualaikum Zam aku tunggu di Halte depan Grammed yaa, ingat jangan telat,”

Pesan singkat yang membuat pagiku semangat menjemput ilmu. Aku kagum dengan Raihan bukan karena pintarnya dia, tapi karena bijak dan solehnya dia yang membuat semua orang termasuk aku tersentuh dengan lisan lembutnya.

***

Setelah kuliah usai, kuceritakan semua yang kualami tentang rasa yang melibatkan seseorang didalamnya sembari makan siang. Responnya pun lagi-lagi dengan bait kata yang bijak disertai dengan nasihat.

“Yaa nggak apa-apa karena memang itu manusiawi, tapi ingat isi surah Al Israa ayat 32, dan jangan dekati zina,”

Nasihat seperti itulah yang selalu keluar dari lisannya. Setelah menghela nafas panjang sembari minum kopi disetiap jeda katanya dia melanjutkan ceritanya.

Dia prihatin dengan pemuda jaman sekarang, katanya orang lebih suka baca chat dan stalk status orang di beranda sosmed yang panjangnya bak kereta api, ketimbang baca Qur’an berapa menit.

Mereka mengoleksi buku satu lemari yang setiap hari dihabiskan berapa puluh halaman ketimbang menghabiskan satu halaman baca Qur’an.

“Mereka lebih suka baca chatdo’i ketimbang baca Qur’an,” katanya.

Curahan lembut yang perlahan menampar keras diwajahku, aku bungkam dengan kepala menunduk, diam seribu bahasa.

Katanya anak sekarang itu susah untuk peka dengan lingkungan sekitar, jarinya hanya sibuk dengan deretan abjad di layar handpone, menyusun kata untuk caption yang tepat di beranda dan story sosmed atau dengan game online yang menguras habis waktu tanpa makna dan hal yang lebih bermanfaat.

“Huuummm memuaskan batin tanpa menjalankan kewajiban sama halnya dengan tiupan balon yang besar tanpa isi, sia-sia saja,”.

Betapa fasih dan dewasanya dia menjelaskan itu. Aku baru sadar setelah itu, bahwa untuk memuaskan rasa itu (cinta) ada waktunya dan harus dengan jalan yang benar. Satu lagi, hidup itu memang pilihan tapi jangan memilih hal yang membawamu larut dalam kesia-siaan. Buatlah hal yang bermanfaat untuk diri kita dan orang lain.

“Dan aku tidak mau kau termasuk orang yang seperti itu Kawan,” akhir katanya.

Diapun berlalu menuju perpustakaan tak lupa dengan ajakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pemilihan Dekan FKIP Unsulbar : Lima Bakal Calon Bersaing

Sekretariat Panitia Pemilihan Dekan (Pildek) FKIP Unsulbar. (Foto