Foto: Rahma Khaerati
Karakterunsulbar.com- Rahma Khaerati, (Agribisnis, 2016), Fakultas Pertanian dan Kehutanan (Fapertahut), Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), berhasil menerbitkan dua artikel penelitiannya dan terindex Scopus.
Scopus ID dimiliki oleh penulis yang artikelnya pernah dipublikasikan dan terindex oleh Scopus, sebuah pusat data terbesar di dunia yang mencakup puluhan juta literatur ilmiah yang terbit sejak puluhan tahun yang lalu sampai saat ini.
Rahma, satu-satunya mahasiswa bersama tujuh dosen dari Fakultas Pertanian (FP), Univerditas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Musamus Merauke (Unmus) melakukan penelitian yang kemudian pada Rabu, 13 November 2019 dipublikasikan di Database Institute Of Physics (IOP).
Dua artikel yang terindex yakni masing-masing berjudul The Pattern of Food Consumption and Nutritional Status of Primary School Students Based on Socio Economic Aspect, yang diteliti bersama Departemen Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian (FP), Unhas, Pipi Diansari, A.I.T Ansari , Muhammad Arsyad, dan N.M Viantika, dan Departemen Agribisnis, FP, Unmus, M. Dawapa.
Sedang artikel keduanya berjudul Competitiveness Analysis of Cocoa Commodities on South Sulawesi, yang juga diteliti bersama Departemen Sosial Ekonomi Pertanian ,FP Unhas yakni, S. Bulkis, M. Fahmid, H. Hidayah, Muhammad Arsyad, A. Amrullah, dan A. Amiruddin, juga bersama Departemen Agribisnis, FP, Unmus, F.C. Situmorang.
Rahma menjelaskan, dua artikel tersebut terbit setelah penelitian selama 6 bulan sejak Maret hingga Agustus 2018 lalu. Mulai dari penelitian secara langsung di Kecamatan Tanete, Riattang Barat, Kab. Bone, Sulawesi Selatan, hingga penulisannya yang dilakukan di Publication Management Center (PMC) Unhas dan komunikasi via email dan WhatsApp.
Rahma juga menjelaskan, sebelum artikelnya terbit, mereka harus menunggu kurang lebih setahun hingga artikel tersebut diterbitkan di IOP melalui berbagai proses, yakni submission ke publisher dan proses review, setelah review dan layak publish maka artikel tersebut diterbitkan pada 13 November.
“Setelah itu menunggu sekitar 2 Minggu untuk ID Scopus nya,” tulisnya melalui pesan Whatsapp. (13/11)
Rahma sebagai CO Author Affiliansi Unsulbar, mengaku bersyukur karena bisa bergabung dengan tim tersebut dan merupakan langkah awal melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Dalam penelitian dan pengembangan bukan hanya menjadi tanggub jawab dosen, tapi juga mahasiswa. Karenanya saya sangat bersyukur diberi kesempatan ikut dalam Tim Riset ini,” tambahnya.

Menurut Muhammad Arsyad, Ph.D., Direktur PMC Unhas, untuk publikasi internasional yang bereputasi Scopus maupun Web of Scinece terdapat empat kendala mendasar yang sering muncul. Pertama, kesulitan Konversi manuscript (paper) dalam bahasa Indonesia ke bahasa asing khususnya English, termasuk proof read-nya untuk suatu artikel.
Kedua, penguasaan Referencing Manager yang saat ini sudah menjadi keharusan untuk publikasi internasional. Ketiga, kejelian mengikuti keharusan formatting dari jurnal tujuan. Keempat adalah antisipasi Similarity Index (tingkat kesamaan dengan artikel lainnya).
Selain itu, Arsyad berharap ada penguatan kerjasama penelitian (Research Collaboration) dan Mempublikasi Bersama (Joint Authorship) menjadi sangat penting, sebagai diseminasi riset yang perlu diketahui oleh masyarakat umum, baik kerjasama antar perguruan tinggi di dalam negeri maupun luar negeri.
“Dosen di perguruan tinggi harus menyadari bahwa tugas penelitian yang dilanjutkan dengan publikasi internasional bereputasi baik menjadi bagian yang sangat krusial dalam peningkatan kualitas perguruan tinggi, termasuk pemeringkatannya di dalam negeri,” jelasnya lebih lanjut.
Arsyad juga menjelaskan bahwa pemeringkatan perguruan tinggi dalam negeri sudah memasukkan Komponen Input, Proses, Output, Outcome dan Inovasi. Bukan hanya targeting jumlah publikasi internasional sekelas Scopus, akan tetapi yang paling penting adalah bagaimana perguruan tinggi menjalankan social responsibility untuk berperan kuat dalam pembangunan sosial ekonomi suatu bangsa melalui riset, publikasi dan inovasi.
“Intinya dosen harus melakukan diseminasi riset, publikasi dan inovasi,” simpulnya.
Artikel tersebut dapat di akses melalui link https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/343/1/012109/meta dan https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/343/1/012106.

