PkM Dosen Unsulbar : Merajut Asa Nelayan di Pesisir Mandar, Inovasi Rumpon hingga Kemandirian Ekonomi

PkM Dosen Unsulbar : Merajut Asa Nelayan di Pesisir Mandar, Inovasi Rumpon hingga Kemandirian Ekonomi

- in Berita, Kabar Kampus
17
0

 Tim PkM Rumpon Unsulbar menggelar kegiatan Inovasi Rumpon dan Pelatihan Kemandirian Ekonomi di kelompok Nelayan Sabang Subik. (Foto:Ist)

Karakterunsulbar.com — Desiran ombak di pesisir Desa Sabang Subik, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, menjadi saksi bisu perjuangan harian para nelayan menantang lautan. Di tengah himpitan tingginya biaya melaut dan ketidakpastian harga tangkapan, secercah harapan baru hadir melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) yang digelar oleh tim dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada Kamis (27/8/2026).

Pada pembukaan pelaksanaan kegiatan tersebut, hadir antara lain, Sekretaris Desa Sabang Subik Halkim, M.Pd, ketua kelompok nelayan Borahima bersama puluhan nelayan, warga pesisir Sabang Subik.

Menurut ketua tim PKM, Muhammad Sajidin, M.Si,  kegiatan pemberdayaan kali ini berfokus pada Kelompok Nelayan Sitarrangan. Ia menjelaskan program pemberdayaan ini tidak sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan dirancang secara partisipatif untuk menyentuh akar permasalahan nelayan secara menyeluruh.

Sajidin mengatakan, kegiatan ini menargetkan pencapaian dari tiga aspek utama, yaitu peningkatan produksi perikanan lewat penerapan teknologi tepat guna (TTG) rumpon, penguatan kapasitas teknis, serta pengelolaan manajemen usaha dan pencatatan keuangan.

Inovasi Rumpon Ramah Lingkungan Langkah nyata pertama yang dilakukan adalah perakitan satu unit TTG berupa rumpon ramah lingkungan. Secara gotong royong, para nelayan bersama tim pengabdi merakit fasilitas pemikat dan pengumpul ikan (fish aggregating device) di area Dermaga Sabang Subik.

Tim PkM Unsulbar bersama Kelompok Nelayan Sitarrangan Sabang Subik. ( Foto : Ist)

Rumpon ini dirancang khusus untuk menekan pengeluaran operasional melaut dan mengefisienkan waktu penangkapan bagi nelayan lokal. Material yang digunakan memadukan produk pabrikan berdaya tahan tinggi dan bahan lokal yang ekonomis. Untuk menambatkan struktur, digunakan tali nilon berukuran 18 mm, didukung pelampung styrofoam balok sebagai pengapung sekaligus penanda permukaan. Agar rumpon kokoh menahan hempasan arus, tim menggunakan pemberat berupa jangkar beton berbahan dasar semen Bosowa. Menariknya, bagian atraktor atau pemikat dirancang menggunakan kombinasi waring, daun kelapa, dan ban bekas.

“Keterlibatan aktif para anggota kelompok Sitarrangan menjadi sarana transfer keterampilan praktis agar mitra mampu merawat dan mereplikasi teknologi rumpon ini secara mandiri di kemudian hari,” tulis laporan kegiatan tersebut.

Navigasi Presisi

Inovasi fisik tersebut dibarengi dengan edukasi teknis. Akademisi sekaligus pakar perikanan tangkap, Zulfathri Randhi, S.Pi., M.Si., memberikan pembekalan mendalam tentang mekanika rumpon dan pentingnya menyesuaikan atraktor dengan sifat biologis ikan pelagis kecil. Nelayan diajak untuk lebih peka memperhitungkan topografi dasar laut dan karakteristik arus perairan guna memperpanjang usia pakai rumpon sekaligus memaksimalkan daya pikatnya.

Lebih jauh, nelayan juga dilatih menandai dan memetakan titik koordinat rumpon menggunakan sistem Global Positioning System (GPS) serta aplikasi navigasi pada ponsel pintar. Penggunaan teknologi presisi ini efektif mengeliminasi metode pencarian jkonvensional, sehingga mampu memangkas pemborosan bahan bakar minyak (BBM) dan menjamin rumpon mudah ditemukan meski cuaca memburuk di laut lepas.

Dosen Perikanan Unsulbar, Zulfathri Randhi, M.Si. menyampaikan materi tentang Inovasi Rumpon. (Foto : Ist)

Transformasi Keuangan dan Pemasaran Kolektif Dari sisi ekonomi, pendampingan tak kalah intensif. Dosen Unsulbar Muhammad Sajidin, S.Pd., M.Si., dan Dr. Farhanuddin, S.E., M.Si., memimpin pelatihan manajemen usaha untuk mengubah tata kelola ekonomi nelayan dari yang semula informal menjadi lebih terstruktur.

Kebiasaan lama nelayan yang abai pada pencatatan arus kas mulai dikikis. Nelayan diedukasi secara disiplin mengisi buku kas sederhana, mencatat seluruh pengeluaran operasional seperti pembelian BBM dan logistik perbekalan, hingga total pendapatan dari hasil penjualan harian. Lewat pembukuan ini, kalkulasi untung-rugi rumah tangga nelayan kini menjadi jauh lebih transparan dan terukur.

Sebagai puncak strategi pemberdayaan, narasumber sangat menekankan urgensi pergeseran strategi penjualan. Penjualan perorangan yang kerap membuat nelayan terpaksa menerima harga sepihak dari tengkulak, kini diubah menjadi skema pemasaran kolektif di bawah kelembagaan Kelompok Nelayan Sitarrangan. Skema kolektif ini dipercaya akan meningkatkan posisi tawar (bargaining power) nelayan dalam bernegosiasi, memangkas rantai distribusi yang merugikan, dan bermuara pada stabilitas harga demi kesejahteraan masyarakat Desa Sabang Subik.

Anggota Kelompok Nelayan Sitarrangan,  Tamsil mengungkapkan Kami masyarakat desa Sabang subik khususnya masyarakat keluarga nelayan mengucapkan terima kasih banyak atas diselenggarakannya pengabdian kepada kelompok nelayan sabang subik, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk kami dalam upaya meningkatkan produktivitas dan manajemen keuangan keluarga nelayan. (rls/RD01)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Ombudsman RI di Unsulbar: Mahasiswa sebagai Garda Depan Pengawal Pelayanan Publik

Kuliah Umum Ombudsman RI di aula Theather Unsulbar,