Dosen Unsulbar melatih Peternak membuat obat Scabies berbahan Buah Jarak. ( foto : Ist)
karakterunsulbar.com — Buah jarak yang selama ini tumbuh liar di pekarangan, ternyata bisa menjadi obat alami untuk penyakit kulit pada kambing. Inovasi inilah yang dibawa oleh tim dosen dari Program Studi Peternakan, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) saat melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Galung, Kecamatan Banggae Timur, Majene.
Dalam kegiatan tersebut, para dosen mengajarkan anggota Kelompok Tani Ternak Tunas Kelapa cara membuat minyak oles herbal dari biji buah jarak yang berfungsi mengatasi penyakit scabies, penyakit kulit yang sering menyerang kambing dan menyebabkan gatal, luka, bahkan penurunan produktifitas ternak.
Ketua tim Pengabdian, Marsudi dalam keterangan persnya menjelaskan, buah jarak memiliki kandungan yang bermanfaat untuk mengatasi masalah kulit pada ternak.
“Buah jarak ini sangat bermanfaat. Kandungan risinoleatnya bisa menjadi anti radang, sehingga bisa mengurangi gatal pada kulit kambing yang terkena scabies. Bahan-bahannya juga mudah didapat di sekitar kita,” ungkapnya, Minggu, 12/10/2025.

Pelatihan obat alami Scabies bagi peternak yang berlangsung Kamis, 9 Oktober 2025 itu diawali dengan sosialisasi tentang penyebab dan dampak penyakit scabies, kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan minyak oles berbahan alami.
Para peternak tampak bersemangat mencoba sendiri proses pengolahan biji jarak menjadi minyak herbal siap pakai.
Sementara itu, dosen peternakan Unsulbar Taufik Dunialam Khaliq menjelaskan, inovasi minyak oles dari buah jarak tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan ternak, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.
“Penyakit scabies ini tidak hanya menyerang kambing, tapi juga domba, kelinci, babi, bahkan anjing. Jadi, produk ini bisa dikembangkan sebagai antibiotik alami yang bernilai komersil dan berkelanjutan” jelas Taufik.
Selain menyehatkan ternak, kegiatan ini juga membuka wawasan peternak tentang pemanfaatan bahan alami lokal yang ramah lingkungan.

Dosen dan mahasiswa Unsulbar berharap, pengetahuan ini dapat diteruskan oleh para peternak kepada anggota kelompok lainnya, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas.
Kegiatan ini menjadi wujud pengabdian kepada masyarakat bagaimana ilmu dari kampus dapat langsung diimplementasikan di lapangan, membantu masyarakat sekaligus mendukung sustainibilitas usaha peternakan rakyat di Sulawesi Barat. (Rls)

