Fisika Berdampak : Mengikis Stigma Rumit dengan Tantangan Jembatan Mini

Fisika Berdampak : Mengikis Stigma Rumit dengan Tantangan Jembatan Mini

- in Berita
36
0

Kegiatan “Mini Bridge Challenge” Pendidikan Fisika Unsulbar  di SMKN 1 Rangas, Mamuju. ( foto; Ist)

Karakterunsulbar.com – Stigma fisika sebagai mata pelajaran yang kaku dan penuh rumus rumit perlahan dikikis di SMKN 1 Rangas, Mamuju. Pada Kamis pagi, 10 September 2026, keriuhan positif pecah saat puluhan siswa berhasil menguji daya tahan jembatan mini buatan mereka.
Kegiatan bertajuk “Mini Bridge Challenge” ini diinisiasi oleh dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
Kegiatan merupakan pelaksanaan program Pengabdian Kemitraan DIPA Unsulbar 2026 yang mengusung payung “Fisika Berdampak Jilid 2”.

Target sasarannya spesifik para siswa Kelas XI dari Konsentrasi Keahlian Konstruksi Jalan dan Jembatan. Pemilihan kelas ini jelas bukan tanpa alasan. Proyek jembatan mini dirancang sebagai medium untuk menjembatani teori fisika antara lain; gaya, keseimbangan, distribusi beban, dan kekuatan struktur dengan realitas bidang vokasional yang sedang mereka geluti.

Ketua Tim Pelaksana, Nurlina, M.Si., menegaskan pentingnya menghadirkan pengalaman belajar yang membumi. “Melalui kegiatan Mini Bridge Challenge ini, kami ingin menunjukkan kepada siswa bahwa fisika tidak hanya berkaitan dengan rumus dan perhitungan, tetapi juga hadir secara nyata dalam bidang keahlian yang mereka pelajari, khususnya konstruksi jalan dan jembatan,” ujarnya.

Sebelum aksi bongkar pasang dimulai, kegiatan dibuka dengan hangat oleh pembawa acara Wita Fardilla, lalu disusul pemaparan teknis proyek oleh mahasiswa Muhammad Sahrul. Pembekalan konseptual ini menjadi amunisi penting sebelum siswa diterjunkan ke arena.

Jembatan Mini

Siswa kemudian dipecah ke dalam lima kelompok. Selama satu jam penuh, mereka ditantang memeras otak untuk merancang dan membangun jembatan berbekal alat serta bahan yang telah disediakan.
Para siswa tampak antusias duduk melingkar di lantai; mereka berdiskusi, merakit stik kayu, dan bahu-membahu merekatkan struktur jembatan menggunakan lem tembak. Pendekatan Project-Based Learning (PjBL) yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif ini dikawal ketat oleh lima mahasiswa pendamping, yakni Nurul Aulia Hasri, Fatmawati, Perdi, Winda, dan Kristina.

Puncak ketegangan terjadi saat memasuki tahap pengujian yang dieksekusi oleh tim penguji, Mutmainnah Badu dan Aulia Nadratun Naim. Jembatan mini bersusunan stik kayu tersebut digantung di antara dua kursi, lalu diuji kekuatannya dengan menahan beban berupa kantong plastik berisi rupa-rupa barang.
Hasilnya memuaskan: sebagian besar kelompok sukses menciptakan struktur yang kukuh. Di akhir pengujian, satu kelompok dengan daya tahan jembatan terkuat didapuk sebagai pemenang untuk memantik iklim kompetisi yang sehat.

Pendekatan aplikatif ini nyatanya berbuah manis di mata para siswa. “Menurut saya kegiatan ini seru karena kami tidak cuma belajar teori, tapi langsung praktik membuat jembatan. Jadi kami bisa tahu kenapa jembatan bisa kuat atau malah tidak kuat saat diberi beban,” ungkap salah seorang siswa dengan antusias.

Acara ditutup dengan pembagian reward dari Tim Pelaksana sebagai bentuk apresiasi, disusul pengisian kuesioner evaluasi oleh para siswa.
Lebih dari sekadar ajang adu kuat jembatan, kolaborasi dosen, mahasiswa, dan siswa ini membuktikan bahwa sinergi perguruan tinggi dan sekolah vokasi mampu meruntuhkan menara gading teori akademis, mengubahnya menjadi ilmu pasti yang aplikatif dan menyenangkan. (rls/RD01)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Membangun Budaya Peduli di Kampus Lewat Rutinitas Jumat Berkah FKIP Unsulbar

“Jumat Berkah” FKIP Unsulbar berlangsung di depan Gedung