Dekan Fisip saat memberikan sambutan di depan mahasiswa PKKMB Fisip Unsulbar 2019. Dari kanan, Ka. Prodi Ilmu Politik (Muhammad. S.IP,.M.Si), Wakil Dekan II (Dr. Putera Astomo, SH.,MH), Dekan Fisip (Dr.Burhanuddin), Wakil Dekan I (Dr. Hartawan, M.Si), Kabag Tata Usaha Fisip (Rivai Sahrir)
Laporan: Reski Hasan (Ilmu Hukum, 2018)
Karakterunsulbar.com- Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Dr. Burhanuddin, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) memotivasi mahasiswa Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) se fakultas. (23/08/2019)
Ia memotivasi lewat sambutannya saat membuka acara PKKMB tingkat fakultas dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan bangsa dan pelopor perubahan.
“Pemuda adalah pelopor reformasi, jadi kekuatan bangsa ada pada kalian,” tuturnya.
Di tahun ini, Fisip merupakan salah satu fakuktas dengan mahasiswa baru (maba) terbanyak dengan jumlah 205 maba yang rerbagi di tiga jurusan.
Untuk program studi (prodi) Hubungan Internasional (HI) sebanyak 56 maba, Ilmu Politik sebanyak 48 maba, dan Ilmu Hukum sebanyak 101 maba.
Di depan mahasiswa, ia mengungkapkan harapannya agar di era milenial, pemuda juga mampu menjadi pelopor perubahan. Mengingat mahasiswa saat ini memiliki pemahaman yang luar biasa berkat akses pengetahuan yang mudah.

Materi Dekan Fisip di PKKMB Fakultas
Selain membuka acara secara resmi, ia juga memaparkan materi yang membahas tentang kehidupan di kampus terkait keaktifan dan sifat kritis mahasiswa.
“Jika dosen tidak disiplin, mahasiswa harus berani protes,” Jelasnya.
Selain itu, ia juga memberitahu apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa baru untuk mempersiapkan diri mengikuti proses pembelajaran nanti.
Seperti mendengar dan aktif terhadap pelajaran, memiliki perilaku prestasif dan budaya belajar, memiliki keterampilan belajar di perguruan tinggi, dan memiliki sifat kristis, serta memiliki sifat analitis.
Ia menekankan agar mahasiswa tidak takut membantah argumen dosen jika memiliki pandangan berbeda. Namun, tetap dengan norma dan kesopanan dalam penyampaiannya.
“Kata Soekarno, belajar tanpa berfikir itu pekerjaan yang sia-sia, dan berfikir tanpa belajar sangat berbahaya,” ucapnya.
Ia juga menambahkan, mahasiswa harus objektif, punya kreasi, terbuka dan berlapang dada atas kritikan, dan menghargai waktu, bebas dari sifat berburuk sangka, kesejawatan dan kemitraan dengan civitas akademika.
Serta dialogis, menjunjung tinggi norma dan susila akademi, dinamis dalam memperoleh pengetahuan.

