Foto: Rektor Unsulbar, Dr. Akhsan Djalaluddin
Karakterunsulbar.com- Rektor Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Dr. Akhsan Djalaluddin, menegaskan dan berharap agar aksi yang akan dilakukan mahasiswa Unsulbar tetap dilakukan dengan damai tidak anarkis dan mengutamakan dialog.
Terkait dengan aksi yang akan dilakukan mahasiswa Unsulbar pada Rabu, 25 September 2019, ia tidak menyerukan mahasiswa untuk mengikuti aksi.
Sebagai Rektor Unsulbar, ia bertanggung jawab atas keamanan bangsa Indonesia, khususnya di Unsulbar. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada semua masyarakat khusunya mahasiwa Unsulbar agar tetap menjaga keamanan.
“Lakukan aksi damai, jangan anarkis utamakan dialog,” tegas Akhsan, pesan singkat kepada karakterunsulbar.com melalui WhatsApp.(24/9/2019)
Secara terpisah, koordinator lapangan, Al-Farhat (Hubungan Internasioanal, 2016) menjelaskan, beberapa tuntutan yang akan dilayangkan yaitu Penolakan hasil Revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, Rancangan UndangUndang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Kemudian, RUU Pemasyarakatan, RUU Pertanahan, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Rencanan Zonasi dan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP3K), RUU-Mineral Batu Bara (MINERBA) dan RUU Sistem Budidaya Perairan Lanjutan karena dinilai menindas rakyat.
Lanjut Al-Farhat menjelaskan, konsolidasi akan dilakukan pada selasa malam nanti, 24 September, pukul 19.00 WITA, di Pelataran Gedung Rektorat Unsulbar.
Esok harinya, 25 September, massa akan mulai berkumpul 08.00 WITA dengan titik kumpul di Gedung Rektorat Unsulbar, kemudian mulai berjalan ketitik aksi.
Aksi akan dilakukan didepan Pusat Pertokoan Majene kemudian massa akan bergerak ke Gedung Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Majene.
Ia berharap agar semua seluruh mahasiswa khususnya mahasiswa Unsulbar untuk hadir dalam aksi ini karena ini adalah bukti keberpihakan mahasiswa kepada rakyat.
“Ini bukan saatnya mahasiswa bicara persoalan warna atau latar belakang organisasi, tapi harusnya mahasiswa mampu memposisikan keberpihakan kita terhadap kondisi negara, apakah kita mau berpihak kepada rakyat atau jadi buzzer elit politik,” tambah Farhat.
Ia juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan. Karena menurutnya kondisi negara tidak dalam baik-baik saja, banyak kebijakan yang menindas rakyat yang mengarahkan negara ke orde baru.
“Inilah waktu yang tepat untuk kembali membangkitkan Gerakan Mahasiswa yang telah tertidur pasca 1998,” tegasnya

