Mahasiswa dan Dosen Keluhkan e-Learning, Universitas Beri Tanggapan

Mahasiswa dan Dosen Keluhkan e-Learning, Universitas Beri Tanggapan

- in Kabar Kampus
190
0

sumber foto : google.com

Laporan : Reski Hasan (Ilmu Hukum, 2018)

Karakterunsulbar.com – Sejak Maret 2020, Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) telah menggarap program e-Learning sebagai media pembelajaran daring selama pandemi Covid-19.

Website yang bekerja sama dengan Telkomsel dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengurangi beban mahasiswa yang terdampak selama pandemi kini memiliki 8.058 akun terdaftar atau 95,9% dari jumlah mahasiswa aktif Unsulbar berdasarkan data siakad. Sedang 344 akun pengajar yang terdaftar.

Berdasarkan data yang diperoleh tim karakterunsulbar.com dari kepala Pusat Penjaminan Mutu, Irfan AP, S.T., M.MT (dosen Fakultas Teknik), dari total akun terdaftar hanya 5.858 akun yang aktif dalam kelas pembelajaran e-Learning.

Data pengguna e-Learning Unsulbar

Sebelumnya, tim telah melakukan wawancara kepada dosen dan mahasiswa yang memiliki akun terdaftar di e-Learning dan menganggap website tersebut masih sangat rumit.

Salah satunya Dian Aulia (Pendidikan Biologi, 2019), mengungkapkan e-Learning memberikan ruang bagi mahasiswa dan dosen dalam pemberian bahan ajar dan pengumpulan tugas, namun masih kekurangan fitur.

“Seperti fitur diskusi yang membingungkan mahasiswa dan sistem yang kadang eror,” ujarnya, (19/2).

Sedangkan, Layla syakiah (Aquaculture, 2018), mahasiswa asal Dusun Tabarodea, Desa Dapurang, Kecamatan Dapurang, Kabupaten Pasangkayu itu mengaku kesulitan mengakses e-Learning karena jaringan susah.

“Meskipun sudah berusaha mencari jaringan tapi masih sulit untuk mengakses” ungkapnya, (19/2).

Tak hanya mahasiswa, keluhan pun datang dari dosen yang menggunakan e-Learning sebagai media perkuliahannya.

Seperti Dedy Putra Wahyudi, S.Pi.,M.Si, (dosen Fakultas Peternakan dan Perikanan) menyebutkan, sistemnya masih belum sempurna dan banyak mahasiswa yang belum paham penggunaan e-Learning.

“Sistemnya bagus tapi belum sempurna, misalnya mengunggah video kadang tidak semua browser bisa mengakses,” jelasnya, (19/2).

Hal serupa juga dikatakan Dr. Salma laitupa, S.H.,M.H. (dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) menurutnya, sistem e-Learning masih rumit.

“Tidak sesimple program lain seperti Google Classroom,” tambahnya, (19/2).

Tanggapan Kampus Atas Keluahan e-Learning

Dikonfirmasi kepada Plt Wakil Rektor I Unsulbar, Dr.Ir. Zulfajri Basri Hasanuddin, M.Eng, ia menjelaskan bahwa e‐Learning saat ini menuju friendly used system (mudah digunakan dan tidak rumit).

Meski sebelumnya telah disosialisasikan, ia menyebutkan ketidakpahaman dan kesulitan mahasiswa dan dosen dalam menggunakan e-Learning karena belum terbiasa.

Ia juga mengungkapkan, e-Learning masih belum bisa diterapkan secara realtime, karena harus dalam kondisi jaringan bagus dan memadai. Sebabnya ia membentuk tim untuk menyempurnakan website tersebut.

“e-Learning kita masih sebatas pemanfaatan manajemen material pembelajaran dan beberapa fitur terbatas,” tulisnya, (19/2).

Lebih jelasnya ia menyampaikan, saat ini universitas memikirkan bagaimana delivery ilmu dosen ke mahasiswa bisa berjalan dengan baik sebagai manajemen material pembelajaran sekaligus media pembelajaran online dengan fitur video conference, chat room, dan fitur bermanfaat lainnya.

Irfan menjalaskan, e-Learning adalah fasilitas yang didorong untuk dimanfaatkan ditengah kesulitan ekonomi selama pandemi Covid-19.

“Diluncurkan di tengah pandemi jelas ada kendala dan butuh pengenalan secara cepat,” ujarnya, (19/2).

Ia mengungkapkan, tim e-Learning belum maksimal dalam pendampingan dan sosialisasi tanpa dukungan dari tiap fakultas untuk sosialisasi secara intens.

Beberapa fungsi dinonaktifkan seperti pesan, forum, mengingat keterbatasan resoures server, juga untuk video dibatasi agar tidak berat.

Ia menyampaikan, e-Larning tidak memindahkan perkuliahan menjadi online tapi menyusun materi yang disesuaikan dengan pencapaian kompetensi yang dapat diikuti oleh mahasiswa dan mengembangkannya. Dan, dapat diakses 24 jam dimanapun, bukan hanya dalam satu kurun waktu pembelajaran yang terjadwal.

Apalagi konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka diukur atas 8 Indikator Kinerja Utama (IKU), yang salah satunya “kelas yang kolaboratif dan partisipatif”.

“e-Learning juga memudahkan evaluasi dosen dalam pemenuhan tugas mengajar yang dapat diakses oleh Inspektorat Jenderal Kemendikbud langsung,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Perikanan Unsulbar Ajari Masyarakat Budidaya Ikan Kerapu dan Kepiting di Karamba

Foto : Suasana diskusi Budidaya Ikan Kerapu dan