Ketua KPU Majene, Munawir Ridwan, MT, (kanan) menyampaikan materi Praktikum Mata Kuliah Tata Kelola Pemilu dengan peserta Mahasiswa Ilmu Politik Unsulbar, Rabu, 20/5/2026 ( Foto: Ist)
karakterunsulbar.com – Tahapan Pemungutan dan Penghitungan Suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS) merupakan salah satu fase terpenting di Pemilu dan Pilkada.
Berbagai masalah kerap muncul di tahapan “mahkota” pemilu – pilkada tersebut.
Potensi masalah di tahapan pemilu itu, menjadi salah satu pokok materi kuliah Praktikum mahasiswa Ilmu Politik FISIP Hukum Unsulbar di aula kantor KPU Majene, Rabu, 20 Mei 2026.
Kuliah Praktikum itu sendiri diikuti puluhan mahasiswa semester VI yang mengampu mata kuliah Tata Kelola Pemilu.
Hadir dalam kuliah praktikum tersebut antara lain, Ketua KPU Majene, Munawir Ridwan, Anggota KPU Majene; Andi Hamka, Salma Mayasari serta Ahmad.
Dari Prodi Ilmu Politik, ikut hadir membersamai mahasiswa; Ketua Program Studi Ilmu Politik, Asriani, M.Si dan Dosen Pengampuh Mata Kuliah Tata Kelola Pemilu, Dr. Farhanuddin.

Dalam sambutan mengawali praktikum, Ketua Prodi Asrani menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KPU Majene yang selalu membuka ruang bagi civitas akademika Unsulbar khususunya Prodi Ilmu Politik untuk mengemmbangkan ilmu dan pengetahun tentang kepemiluan.
” KPU Kabupaten Majene menjadi salah satu mitra strategis kami dalam penguatan pembelajaran praktis mahasiswa. Kolaborasi ini turut memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan Prodi Ilmu Politik hingga meraih akreditasi unggul,” ungkap Asriani.
Ketua Munawir dan para anggota KPU Majene mengawali kegiatan praktikum dengan mejelaskan kelembagaaan KPU beserta tugas – tugas dalam menyelenggarakan pemilu dan pemilihan kepala daerah (Pilkada).
Simulasi
Praktikum Mata Kuliah diisi dengan materi Ketua Munawir tentang tahapan di pemungutan dan penghitungan suara.
Mahasiswa antusias mengikuti pemaparan materi dari Ketua Munawir yang membahas mengenai alur penyelenggaran pemungutan dan penghitungan suara di TPS.
” Ketelitian dan kecermatan petugas di TPS sangat dibutuhkan, sehingga pelaksanaan pemilu berjalan dengan baik,” kata Munawir.
Dalam materinya itu, Ketua Munawir membimbing mahasiswa mempraktikkan langsung proses pemungutan dan penghitungan suara.
Sejumlah mahasiwa memainkan peran sebagai pemilih maupun petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS).

Dosen Pengampu Mata Kuliah, Dr. Farhanuddin memyampaikan, di kelas mahasiswa sudah mendapatkan berbagai teori tentang penyelenggaraan pemilu, sehingga untuk melengkapi pemahaman kepemiluan mahasiswa, dilakukan praktikum.
Ia mengaku mengapresiasi kemitraan KPU Majene dengan insititusi kampus yang sangat bermanfaat bagi pembangunan kualitas demokrasi.
” KPU Majene ini merupakan institusi yang punya prestasi , pernah menjadi pelaksana rekapitulasi tercepat di Pilkada,” kata Farhan.
Dalam pemaparannya, Dr. Farhanuddin menyampaikan, salah satu masalah yang penting menjadi perhatian di pemilu adalah masih tingginya suara tidak sah.
Di pemilu serentak 2024, tingkat suara tidak sah secara nasional untuk Pemilu Presiden (Pilpres) tercatat sebesar 2,49% dari total suara sah dan tidak sah, dengan total 4.146.656 suara.
Sementara di Majene, jumlah suara tidak sah relatif rendah, dibawah 1 persen dari total suara.
” Melalui kuliah praktikum ini, kita ingin memadukan teori di kelas dengan pelaksanaan di lapangan, misalnya kita ingin membedah tentang suara tidak sah itu,” kata Farhan. (RD01)

