Plus Minus Kuliah Online dan Tatap Muka di Masa Pandemi

Plus Minus Kuliah Online dan Tatap Muka di Masa Pandemi

- in Kabar Kampus
1338
0

Foto : Dialog publik LDKH Unsulbar sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda

Penulis : Alfian Mansyur

Karakterunsulbar.com – Mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang tergabung dalam Lembaga Debat dan Kajian Hukum (LDKH), menggelar diskusi sisitem perkuliahan ideal di masa pandemi Covid-19. Kamis, (28/10/2021).

Kegiatan yang dibungkus dalam dialog publik dan bazar ini untuk memperingati hari Sumpah Pemuda. Mengusung tema “Urgensi Efektivitas Perkuliahan Secara Daring sebagai Penunjang Kualitas Pemuda Bangsa”.

Bertempat di Kedai Nenek, Pangali-Ali, kecamatan Banggae, Majene. Menghadirkan narasumber salah satu dosen Prodi Ilmu Hukum, Muchtadin Al-Attas, SH.,MH, dan anggota Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Majene, Andi Muhammad Riski AD, SH.

Dalam pemaparannya, Muchtadin menyebutkan dua hal yang bertentangan terkait sistem pembelajaran. Tentang tuntutan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan, sedangkan di sisi lain, kita dihadapkan pada kekhawatiran kualitas pendidikan di masa Pandemi Covid-19.

“Perkuliahan daring memang memudahkan kita belajar di mana saja, tapi yang urgen adalah bagaimana transfer nilai itu sampai ke mahasiswa, karena di masa daring ini hal tersebut sulit,” jelasnya dalam diskusi, (28/10).

Ia menambahkan, berdasarkan pengalamannya mengajar di Unsulbar, ada tipe mahasiswa yang butuh bimbingan khusus, dan tidak cukup hanya dengan kuliah daring. Ada juga mahasiswa yang semangatnya untuk tau itu tinggi.

Sehingga menjadi PR, meningkatkan kultur semangat mahasiswa untuk belajar di masa pandemi.

Peserta dialog publik LDKH Unsulbar

Di kegiatan yang sama, Reski mengemukakan bahwa perkuliahan daring sebenarnya adalah salah satu upaya keselamatan Rakyat, dan agar pendidikan di Indonesia terus berjalan di masa pandemi, juga untuk mengikuti perkembangan zaman.

Dan juga, antara perkuliahan daring atau luring itu relatif, tergantung siapa dan dari mana, dilihat dari kondisi wilayah, baik dari pada akses jaringan itu sendiri.

Reski juga menuturkan bahwa Majene akan lebih efektif melaksanakan perkuliahan tatap muka. Hal ini karena Majene sudah berada pada level 2 kasus penyebaran Covid-19. Tentu dengan syarat pembatasan dan ketentuan tertentu.

“Serta, minat belajar mahasiswa juga harus ditingkatkan, apalagi dimasa pandemi mahasiswa dituntut untuk memanfaatkan teknologi, belajar secara mandiri,” tambahnya, (28/10).

Ketua LDKH, Tiyan Fajar Prakoso (Ilmu Hukum, 2019), mengungkapkan, alasan pengadaan dialog publik ini sebagai bentuk responsif terhadap hari Sumpah Pemuda. Juga, untuk merefleksikan kembali potensi mahasiswa yang terhambat di masa Pandemi Covid-19 akibat sistem perkuliahan daring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pildek FKIP : 1 Kandidat Mundur, 2 Doktor Internal FKIP Maju ke Tahap Pemilihan

Sosialisasi Pemilihan Dekan FKIP melalui baligo di depan Rektorat