karakterunsulbar.com – Dimana ada kamauan, disitu pasti ada jalan. Peribahasa ini cocok menggambarkan perjuangan seorang mahasiswi Unsulbar yang terus berjuang meraih kesuksesan walaupun menghadapi tantangan hidup yang tidak ringan.
Siang itu, awal pekan pertama Oktober 2017, cuaca di Unsulbar kampus Talumung terasa panas, sinar matahari terasa begitu dekat ke bumi.
Para mahasiswa program studi Akuntasi angkatan 2016, baru saja keluar kelas setelah mengikuti mata kuliah terakhir hari itu.
Rasmiani salah satu mahasiwa dalam kelas itu, dia ikut bergegas meninggalkan kelas.
Bila sebagian temannya pulang meninggalkan kampus menggunakan sepeda motor, Rasmiani adalah salah satu mahasiswa yang pergi dan pulang dari kampus berjalan kaki dari tempat tinggalnya sejauh rata – rata 3 KM per hari.
Rasmiani mengaku berjalan kaki setiap hari ke kampus bukanlah persoalan serius, panas – hujan tidak mejadi penghalang baginya untuk ke kampus.
Yang justru menjadi tantangan tersendiri baginya menempuh pendidikan di Unsulbar adalah biaya kuliah dan biaya penunjang akademik.

Rasmiani berasal dari keluarga tidak mampu dari Tappalang, Mamuju. Ia merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.
Karena faktor ekonomi, Rasmiani sempat mengalami kendala untuk lanjut ke bangku kuliah setelah tamat di SMA 2 Tappalang. Bapaknya merupakan petani miskin, sementara ibunya tidak bekerja.
Atas bantuan saudaranya, Ia akhirnya mantap melanjutkan kuliah, masuk Unsulbar tahun 2016 melalui jalur Mandiri.
” Untuk biaya kuliah ( UKT,-), dibantu sama kakak yang bekerja di kalimantan, untuk biaya sehari – hari, saya dapat Rp 100 ribu per bulan namun saya bagi dua dengan adik saya,” ungkap Rasmiani kepada Reporter KARAKTER, Hikmah Sudirman.
Dengan uang saku, Rp 50 ribu per bulan tentu tidak cukup bagi mahasiswa, sebab selain harus membayar SPP Uang Kuliah Tunggal ( UKT,-) mahasiswa juga harus menyiapkan biaya penunjang akademik lainnya seperti biaya buku, fotocopy, biaya tugas makalah.
akhirnya bila ada tugas yang membutuhkan biaya, Rasmiani angkat tangan.
Nasib mujur masih memihak Rasmiani, dia sejak mulai kuliah menumpang di rumah salah satu kerabatnya, sehingga biaya makan sehari – hari dapat teratasi.
Sayangnya kendati termasuk mahasiswa tidak mampu, Ia tidak mendapat beasiswa termasuk bantuan pendidikan Bidikmisi.
Solidaritas
” Ia ( Rasmiani,-) sangat penyabar namun termasuk pintar, awalnya masalah yang dia hadapi tidak kami tahu di kelas, namun setelah amati, kami akhrinya tahu apa masalahnya, uang sakunya itu sangat kurang, kami di kelas kompak urunan membantu, misalnya untuk beli buku, kami akan kumpul uang,” kata rekan satu kelasnya, Hud Huud.
Menurut Hud Hudd, mahasiswa khususnya Akuntansi, memilki buku sangat penting utamanya untuk menjadi pedoman praktek pembuatan laporan keuangan.
Rasmiani ingin sekali ikut membeli buku atau memasukkan laporan namun apa daya, dengan uang saku Rp 50 ribu per bulan tentu tidak akan cukup.
Mahasiswa Akuntansi yang melihat tekad serta semangat Rasmiani kuliah ditengah keterbatasan, kemudian kompak menunjukkan solidaritas, mengumpul uang untuk membantu mahasiswi cerdas itu.
” Misalnya kalau ada buku yang sangat penting dimiliki mahasiswa Akuntansi, kami kumpul – kumpul untuk bantu Rasmiani,” kata Hud.
Bantuan tulus dari teman – teman di kelasnya tentu sangat bermanfaat bagi Rasmiani, kendati begitu, Ia tetap berharap pimpinan kampus dapat memfasilitasinya menjadi peraih beasiswa atau biaya pendidikan Bidikmisi.
Rasmiani sangat layak mendapat bantuan pendidikan, selain berasal dari keluarga kurang mampu, Ia juga merupakan mahasiswa berprestasi dengan IPK rata – rata 3,00 per semester.
Tantangan keterbatasan ekonomi ternyata tidak menyurutkan semangat Rasmiani menjadi sarjana Ekonomi, dan meraih cita – citanya sebagai akuntan agar bisa membantu orang tua, membantu biaya sekolah adiknya.
Pelaut ulung takkan lahir di laut yang tenang. Orang-orang yang hebat takkan lahir dari situasi tanpa tantangan & cobaan, Selamat berjuang terus Rasmiani…. (RD01)


