Ratusan mahasiswa Unsulbar sejak pertengahan April hingga awal Mei 2017 telah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata ( KKN ) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat ( PPM ). Salah satu lokasi pelaksanaanya di kecamatan Wonomulyo, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Bertempat di dua desa di kecamatan Wonomulyo, mahasiswa mengedukasi masyarakat desa memelihara Mangrove dengan memanfaatkan buah dan daun Mangrove.
KKN PPM di dua desa tersebut secara khusus mengambil tema “Pemanfaatan Vegetasi Mangrove Untuk Kedaulatan Ekonomi Masyarakat”.
Salah seorang dosen pendamping Mahasiswa Indah Sari Arbit menjelaskan, latar belakang pemilihan tema tersebut berangkat dari keprihatinan makin berkurangnya lahan mangrove di Polewali Mandar, khususnya di kecamatan Wonomulyo.
Ia menjelaskan, luas lahan mangrove yang hilang di Polewali Mandar dalam lima tahun telah mencapai 300-an hektar. Luas lahan Mangrove di Polewali Mandar yang pada tahun 2008 seluas 650 hektar, saat ini tersisa hanya 300-an hektar.
” Mahasiswa tidak hanya mengajak warga memelihara Mangrove tapi juga mengedukasi bahwa dari tanaman Mangrove bisa mendapat penghasilan, jadi dengan adanya manfaat ekonomi, warga diharapkan pro aktiv memelihara Mangrove,” kata Indah Sari yang juga dosen Perikanan Unsulbar.
Selain Indah Sari, para dosen pendamping mahasiswa lainnya adalah, Sulmiyati ( dosen Peternakan ), Supardjo Razasli Carong ( Kehutanan ) dan Farhanuddin ( FISIP ).
Para mahasiswa dan dosen Unsulbar menawarkan inovasi bagi masyarakat, bahwa dari buah dan daun Mangrove dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat lebih dan bisa menjadi sumber pendapatan bagi ekonomi rumah tangga.
Beragam Jenis, Bermacam Produk

Koordinator Kecamatan ( Korcam ) KKN-PPM Unsulbar, kecamatan Wonomulyo, Polewali Mandar, Irwan, Rabu (22/05) menjelaskan, produk inovasi berbahan Mangrove yang telah dibelajarkan ke masyarakat desa antara lain : Sirup buah Mangrove, Teh Daun Mangrove, Kue Keripik buah Mangrove, juice buah Mangrove, selai Roti dan Lulur berbahan buah Mangrove.
Menurut Irwan yang juga mahasiswa Fisika, Fakultas Matematika IPA ( MIPA ) Unsulbar, produk makanan, minuman serta lulur tersebut berasal dari beragam jenis Mangrove.
” Alhamdulillah masyarakat desa antusias, sebulan lebih kami di desa, masyarakat tertarik untuk terus mengembangkan produk. Harapan kami bila buah dan daunnya bisa menjadi produk ekonomi, kelestarian pohon mangrove dapat terwujud, masyarakat akan aktiv menanam dan memelihara mangrove,” kata Irwan.
Untuk Lulur kecantikan berasal dari Mangrove jenis Xylorpus Granatum, kemudian Kue berbahan tepung dari Mangrove Avicenna Marina.
Mangrove jenis Achanthus untuk Teh, Brugeira Gymnorhiza untuk Sirup, sedangkan buah Mangrove dari Sonneratia Caseolaris digunakan untuk menghasilkan produk Selai dan dodol.
koordinator desa KKN PPM desa Tumpiling, Muslim ( Politik 2013 ) menjelaskan, program pengolahan buah dan dauan mangrove berjalan lancar, salah satunya karena desa Galeso dan Tumpiling memiliki potensi Mangrove, semua jenis Mangrove berada di kedua desa tersebut.
” Abrasi pantai, rusaknya ekosistem di pantai seperti kerusakan karang masih terus berlangsung, sebelum makin terlambat kita bergerak menyelamatkan pantai melestarikan Mangrove dengan mengajak warga melalui inovasi produk,” kata Muslim.

Sementara itu kepala desa Galeso, Suardi memberi apresiasi atas inisiatif dosen dan mahasiswa Unsulbar dalam gerakan pelestarian Mangrove.
Selama ini, Mangrove lebih banyak dimanfaatkan untuk kayu bakar karena disebabkan ketidaktahuan warga akan manfaat ekonomi dari buah dan daun Mangrove.
Menurut Suardi, buah Mangrove pernah menjadi bahan pendamping makanan, namun belum sampai diolah menjadi produk.
” Kami mengapresiasi karena dengan mengetahui mengolah buah dan daun menjadi produk, warga nantinya punya penghasilan tambahan, kami pemerintah desa siap melanjutkan inovasi produk itu dengan bimbingan kampus,” kata Suardi.
Untuk pemasaran, pemerintah desa optimis produk olahan buah dan duan mangrove dapat terjual, pasalnya desa Galeso setiap pekannya didatangi ribuan warga dari dalam dan luar Sulbar yang berwisata di pantai Mampie.
Setelah sukses mengolah buah dan daun menjadi produk makanan, minuman dan lulur, langkah yang kini dirancang dosen dan mahasiswa bersama warga desa adalah mengurus izin produk ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM ).
” Itu rancangan program kami selanjutnya, yang pasti saat ini literasi tentang pentingnya Mangrove sudah terbangun, dan ada potensi ekonomi rumah tangga, kami tidak akan berhenti mendampingi warga desa,” kata Supardjo yang sudah berulangkali meneliti Mangrove. ( RD01 )


