Gema Takbir dan Ketupat, Dosen Unsulbar di Jepang Rindu Lebaran di Kampung

Gema Takbir dan Ketupat, Dosen Unsulbar di Jepang Rindu Lebaran di Kampung

- in Berita
2331
0
Dahlia Patah ( paling kiri ) di Fukuoka, Jepang. (Foto : FB Dahlia P)

Butuh perjuangan tersendiri untuk bisa sampai ke masjid.
Puasa di musim panas hingga 17 Jam per hari sempat terasa berat.
Di hari lebaran, kerinduan akan gema takbir merasuk ke sanubari, ditambah asa membelah ketupat dipadu Kari ayam.

karakterunsulbar.com – Setelah sebulan menuaikan ibadah puasa, ummat Islam di seluruh dunia akan merayakan Idul Fitri.
Hari kemenangan 1 Syawal itu menjadi dambaan setiap umat, tak terkecuali bagi Dahlia Patah, MT., dosen Fakultas Teknik Unsulbar yang kini tengah menempuh pendidikan doktoral di Universitas Kyushu, Jepang.

Bila tak aral melintang, lebaran 1438 Hijriah tahun ini, Dahlia bersama suami dan anak akan kembali merayakan Idul Fitri di negara Sakura tersebut.
Kepadatan jadwal kuliah menjadi alasan utama, keluarga itu terpaksa melepas Ramadhan jauh dari kampung halaman.

Dalam wawancara tertulis dengan KARAKTER, Dahlia yang merupakan dosen Teknik Sipil Unsulbar mengungkapkan, kerinduannya untuk berlebaran di kampung halaman, tanah air Indonesia.
Sejak terangkat jadi PNS di Unsulbar 2015, Dahlia telah bermukim di Majene.

” Pastilah saya dan keluarga merindukan gema takbir berkumandang di sejak malam lebaran hingga beberapa hari setelahnya, di sini kami juga bebas beribadah termasuk berlebaran tapi tetap suasananya berbeda,” katanya.

Lebaran 1 Syawal 1438 tahun ini akan menjadi lebaran ketiga Dahlia di Jepang. Alumni Teknik Sipil Unhas Makassar ini sebelumnya juga berlebaran dua tahun berturut – turut sejak 2015 dan 2016.
Selain Idul Fitri, lebaran Idul Qurban juga dilaluinya di negara yang dijuluki negeri matahari terbit.

” Yang juga kami rindukan makanan – makanan khas lebaran di tanah air seperti ketupat dan buras, disini mana ada ketupat ..he..he..,” kata Dahlia yang tinggal di kota Fukuoka, kota di bagian selatan Jepang.

Di facebooknya, terpajang sejumlah foto Dahlia saat merayakan Idul Fitri tahun sebelumnya.
Bersama umat Islam lainnya dari berbagai negara, Ia merayakan Lebaran di Fukuoka Masjid, Al Nour Islamic Culture Centre.

17 Jam puasa setiap hari

Idul Fitri merefleksikan sebuah kemenangan atas perjuangan sebulan penuh, puasa Ramadhan berhasil menahan hawa nafsu.

Berpuasa di Jepang bagi Dahlia juga terasa spesial, selain suasana yang berbeda dengan yang di tanah air, durasi puasa di Jepang juga lebih lama.
Bila di Indonesia rata – rata berpuasa 13 jam per hari, maka di Jepang durasi puasa 16 hingga 17 jam.
Dalam bahasa Jepang, puasa sering dikenal dengan sebutan danjiki atau hanshoku

Menurutnya, saat musim panas, matahari terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lama, menyebabkan waktu siang lebih panjang dibandingkan malam.
Waktu Subuh sekitar pukul 03:30 sedangkan waktu magrib/berbuka sekitar 19:20-19:30.
Waktu istirahat malam juga lebih singkat, karena waktu Isya jam 21.00 sehingga tarwih bisa selesai hingga jam 22 :00 waktu setempat.

Berbeda dengan Indonesia, aktivitas bulan puasa di Jepang juga berjalan normal seperti biasa. Restoran maupun kedai makanan tetap buka dan orang-orang juga bebas makan dan minum di tempat umum.

” Untuk menuju ke masjid perlu naik bus, kereta api, atau mobil sehingga membutuhkan waktu yang lama, serta akses yang jauh menuju masjid ini bisa menimbulkan rasa sepi dari suasana semarak Ramadhan,” tutur Dahlia menceritakan tantangan tersendiri Ramadhan di negara yang warganya menganut agama Shinto.

lebih lanjut, Ia menceritakan, awalnya berpuasa di Jepang saat musim panas dengan durasi lebih lama terasa berat, apalagi ditambah suasana kerja dan belajar tetap normal seperti diluar bulan Ramadhan.

” Alhamdulillah setelah satu minggu puasa berjalan, saya mulai terbiasa puasa di musim panas, puasa di sini memberi pengalaman spritual tersendiri, kedisiplinan termasuk dalam beribadah akan lebih mendekatkan kita kepada-Nya,” katanya.

Jepang bagi Dahlia juga terasa dekat dihati, selain sudah bertahun – tahun bermukim, belajar di Jepang, di negara itu, Dahlia melahirkan buah hatinya, seorang gadis cantik yang kemudian diberi nama dari bahasa Jepang, Hikari berarti cahaya.

Dari pengalamannya berpuasa tiga tahun di Jepang, warga setempat menghargai mereka yang berpuasa. Teman kuliahnya dari Jepang juga memberi perhatian saat Ia tengah menjalankan ibadah puasa.

” Ada juga orang Jepang yang memberi saran “kamu ga usah keluar ruangan, di luar panas sekali nanti kamu pingsan”. atau ada ada juga yang bertanya, “Apakah kamu hungry?”, Saya hanya tersenyum mendengarnya dan Alhamdulillah mereka menghargai kami yang berpuasa,” tutur perempuan berjilbab ini.

Beasiswa

Di Jepang, Dahlia menempuh pendidikan program S3 di Kyushu University,Jepang. Ia mengambil Jurusan Civil and Structural Engineering dan bergabung di Concrete Engineering Laboratory.

Berangkat ke Jepang sejak Oktober 2016, Ia mendapat beasiswa Jepang dari Monbukagakusho.
Pada program beasiswa di tahun 2016 tersebut, hanya Tiga mahasiswa Indonesia yang beruntung lolos mendapat pembiayaan dari Jepang itu masing – masing, Satu orang dari ITB Bandung, ITS Surabaya dan Dahlia dari Unsulbar.

Dosen yang dikenal tegas namun bijaksana ini menargetkan selesai kuliah Oktober 2019. Ia menjelaskan, pada fakultas Enginering Kyushu University angkatan 2016 berjumlah 14 orang yang berasal dari berbagai negara lintas benua antara lain Mesir, China, Kamboja, Filipina, Thailand dan Myanmar.

” Saya mengambil 3 Mata Kuliah tentang Engineering,Saya sangat terkesan dengan system pengolahan air, drainase, limbah dan persampahan di Jepang, semoga apa yang saya peroleh di Jepang ini dapat bermanfaat bagi Unsulbar dan pembangunan khususnya di Sulawesi Barat,” tutur Dahlia.

Ditengah berbagai tantangan, Ia tetap berkeyakinan dengan usaha yang keras dan sungguh – sungguh, kesuksesan akan digapai… Ganbatte kudasai!! ( RD01)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Rektor Kembali Kecewa Karena Minim Peserta Upacara Hardiknas

Upacara Hardiknas 2026 Unsulbar di kampus Padha-Padhang, Kelurahan