Penulis :Hikmah Sudirman ( Akuntansi 2016 )
karakterunsulbar.com (Makassar ) – Banyak orang yang sudah sering mendengar tentang jurnalis atau wartawan, namun belum mengenal tentang dunia kerja pewarta menghasilkan berita.
Mengikuti workshop jurnalistik Trans7 di kampus Unhas Makassar, 16 – 17 Nopember menjadi pengalaman berharga bagi saya yang baru memulai menekuni dunia kewartawanan.
Dalam waktu dua hari, saya mengikuti kegiatan workshop dengan senang hati karena bisa mendapatkan pengalaman yang menarik dan pelajaran mengenai dunia jurnalistik.
Workshop diawali dengan pembukaan oleh rektor Unhas yang diwakili Iqbal Sultan selaku ketua Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik ( FISIP ) Unhas.
Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo (SYL)tampil sebagai keynote speaker.
Kepada para peserta workshop, SYL mengatakan orang cerdas menyelesaikan tantangan di depannya, bahkan berani mengundang tantangan.

Pesan tersebut sejalan dengan apa yang saya rasakan selama ini, empat bulan menjalani sebagai jurnalis kampus di media KARAKTER.
Membagi waktu antara kuliah, meliput dan kegiatan lainnya adalah salah satu tantangan menjadi mahasiswa yang memilih juga aktif sebagai pewarta.
Tantangan tersebut tidak menjadi penghalang untuk berkarya, justru terus memicu semangat untuk menjadi jurnalis, penyampai informasi ke publik.
Karena semangat itu juga, sehingga begitu mendapat informasi akan digelarnya kegiatan pelatihan jurnalistik oleh Trans7 di Makassar, saya langsung membulatkan tekad untuk ikut serta.
Memasuki aula Prof. Mattulada Unhas yang menjadi tempat acara workhsop, saya bersama mahasiswa Unsulbar lainnya dari Lembaga Penerbitan dan Penyiaran KARAKTER, semangat saya menekuni jurnalistik makin membuncah,
Panitia menghadirkan para jurnalis senior yang telah berpengalaman di dunia penyiaran berita TV, mereka adalah produser, reporter dan kemaramen stasiun televisi, Trans7.
Di hari pertama, kami 200 orang peserta workshop diberikan materi tentang beberapa mengenai jurnalistik dan broadcasting (penyiaran,-).
Kami mendapat beragam teori tentang liputan berita, mulai dari mencari ide liputan, menangkap informasi yang berkembang hingga teori tentang produksi berita.
Pada hari kedua, kami diberikan materi dalam bentuk praktek, peserta diberi tanggungjawab untuk memproduksi berita.
Panitia membagi peserta dalam belasan kelompok.
Dalam setiap kelompok, dilakukan pembagian tugas laiknya di dapur redaksi, ada peserta yang bertindak sebagai reporter, kameramen, editor dan koordinator peliputan.
Kendati sudah sering kali turun meliput berita di dalam kampus, namun praktek meliput kali ini tetap terasa istimewa. Para peserta dibimbing langsung para jurnalis senior Trans7.
Pengalaman menarik lainnya, meliput untuk berita TV , kita dituntut bekerja tim dalam memadukan antara skill membuat naskah dengan kebutuhan gambar video visual dan didukung audio.
Pada materi praktek itu, saya bertindak sebagai reporter yang terjun langsung ke lapangan mencari infromasi kemudian diolah menjadi berita.

Tantangan lainnya yang tak kalah serunya tentang kewajiban jurnalis patuh pada batas waktu atau deadline.
Kami diberita tahu, soal deadline tidak ada tawar menawar, semua harus patuh atas batas waktu.
Jadwal terbit atau jadwal siaran dapat kacau balau bila pihak – pihak yang terlibat dalam produksi berita tidak mematuhi jadwal deadline.
Dari pengalaman liputan lapangan, saya semakin menyadari tantangan dalam melahirkan berita yang berkualitas.
Workshop itu telah mengajarkan banyak hal tentang tanggung jawab seorang jurnalis.
Jurnalis yang bekerja mengumpulkan kepingan – kepingan informasi sejatinya tidak bekerja untuk dirinya sendiri, namun untuk publik yang menanti berita dari wartawan.
Jurnalis sejatinya adalah jendela, mata dan hati dari publik, sehingga saat jurnalis bekerja mencari berita itu sesungguhnya adalah untuk publik. (RD01)

