Penulis : Nurkalisah ( Pendidikan Fisika 2016 )
karakterunsulbar.com ( Makassar ) – Menjadi salah satu peserta workshop Redaksi Trans 7 yang diadakan di Aula Prof. Mattulada Universitas Hasanuddin Makassar, ada banyak pengalaman baru saya temukan di dunia jurnalistik.
Menjadi koordinator liputan berita televisi pada workshop tersebut menjadikan saya semakin bersemangat menjadi jurnalis
Workshop bertema “eksis jadi jurnalis” berlansung selama dua hari 16-17 Nopember 2017 memberi banyak pengalaman yang keren banget pokoknya.
Rabu malam, 15 Nopember, saya serta rombongan kru KARAKTER Unsulbar yakni Kak Irwan, Kak Mitro, Hikmah, Sukma meluncur ke kota Makassar,
Tiba di Makassar jam 04.00 WITA tepatnya di Asrama IM3I (Ikatan Mahasiswa Mandar Majene Indonesia) di daerah Tamalanrea, kami sudah pada tepar dan lansung tidur.
Belum sempat ganti baju terus bangun lagi jam 06.00 pagi.
Perjuangan hari pertama lumayanlah, kita berangkat ditengah gerimis menggunakan layanan transportasi on line Grab.
Kami berangkat dengan perut yang lapar karena tidak ada kesempatan untuk sarapan, semua waktu terkuras gara-gata antri dikamar mandi, alhasil kita terlambat berangkat ke lokasi workshop.

Sesampai dilokasi ada masalah lagi, ternyata e-tiket teman-teman belum diprint, harus menunggu lagi sekitar 40 menit, saya menunggu dikantin, sembari menunggu saya membeli beberapa gorengan pengganjal perut.
Nah, setelah semua e-tiket untuk pendaftaran ulang diprint semua saya dan teman-teman masuk ke dalam ruangan.
Pas lihat ruangan tempat workshop ternyata pesertanya sudah lumayan banyak yang hadir, saya pun dipersilahkan masuk oleh salah satu panitia yang stand by depan pintu.
Di hari pertama workshop ini kita banyak diberi pengetahuan di dunia pertelevisian oleh narasumber yang luar biasa pokoknya.
Ada pembicara utama Bapak Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (Wah pertama kalinya saya liat Gubernur saya secara lansung).
Saya adalah mahasiswa Unsulbar asal kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.
Setelah Gubernur SYL selesai dengan materinya, dilanjutkan dengan materi – materi jurnalistik.
Satu yang masih terus membekas dalam hati ini yakni penegasan dari seorang pemateri bahwa siapapun bisa jadi Jurnalis, dari jurusan dan prodi apapun bisa jadi pewarta.
Sebagai mahasiswa Fisika, yang selama ini aktif di jurnalistik kampus, penjelasan itu menambah motivasi dalam jiwa.
Bagian yang ini dijelasin oleh ketua departemen di Redaksi yaitu Bapak Sukarya Wiguna.
Ada lagi nih ilmu baru yang di dapat, yaitu tentang teknik penulisan berita tv yang dijelaskan oleh kak Octa yang merupakan produser di redaksi Trans7.
Materi lainnya adalah kita diajarkan juga tentang voice dubbing atau mengisi suara berita tv.
Dubbing ini sangat penting, agar berita yang kita sampaikan dapat tersampaikan dengan baik kepada pemirsa.
Meskipun dalam dubbing muka kita tidak keliatan sama pemirsa tapi ekspresi dalam men-dubbing ini sangat dibutuhkan, olah vokal adalah kunci dari pengisi suara berita tv.

Saran dari pemateri, untuk mendapatkan suara yang bagus kita harus senam muka juga, pokoknya ketika dubbing itu kita harus totalitas banget biar feel-nya tuh dapet, untuk bagian ini kita di kasih penjelasan sama Mbak Yolinda yang udah zuper banget nge-dubbingnya dengan suaranya bulat.
Selanjutnya materi teknik menggunakan kamera dan terakhir proses editing.
Sebenarnya ditengah-tengah kegiatan hari pertama saya mendapat sedikit kendala kesehatan sedang tidak berpihak, Demam yang tidak bersahabat membuat saya kurang fokus menerima materi dibagian akhir, Kepala pusing, suhu badan panas, parasaan dingin ditambah ruangan yang lumayan dingin menambah penderitaanku (wah curhat hehhee), namanya juga harus totalitas mengikuti workshop saya tetap mengikuti kegiatan meski kefokusan kadang terbuyarkan, toh saya tak terlalu mengubrisnya.
okelah, lupakan masalah sakit-sakit yang tidak bersahabat itu.
Ditengah kegiatan juga kita berinteraksi langsung dengan beberapa presenter dan reporter di redaksi setelah sebelumnya istirahat sholat dan makan siang dulu. Diantaranya ada kak Taufik Imansyah, kak Lianita Ruchyat, kak Melodi, dan kak Roland Lagonda (koreksi kalo salah penulisan namanya).
Materi Praktek
Next, Pembagian kelompok untuk hari kedua, materi praktek liputan di lapangan.
Saya salah satu anggota kelompok 4 dengan mentor kelompok kami adalah Kak Roland Lagonda, Secara dia paling keren dikacamata saya.
Sebelum pulang, setiap kelompok wajib kumpul dulu sama mentor untuk briefing liputan besok harinya. Jadi kelompok empat kebagian meliput tentang penangkaran Rusa di Unhas dan singkat cerita saya jadi kodinator liputan (korlip).
Korlip di dapur redaksi bertugas antara lain Koordinator Liputan memiliki tugas sebagai berikut ; Memantau dan mengagendakan liputan, memantau tugas-tugas harian para wartawan/reporter serta
melakukan komunikasi setiap saat kepada para redaktur, reporter/wartawan, dan fotografer.
Keesokan paginya, dihari kedua tiba waktu praktek meliput, kendala di awal pagi sudah diimbaskan kepada kelompok empat, tidak ada tripod, pas ada tripod tiba-tiba baretai kamera down, mau tidak mau harus ada plan B kita syuting pake hp sebari menunggu baterai kamera full. untungnya seperti mukjizat, ada handycam yang free jadi kita pake handycam untuk take gambar.
Waktu meliput dilapangan kita juga diburu waktu deadline.
Reporter, Camper, Produser, dan penulis naskah terjun lansung kelapangan.
Editor, Dubber dan saya sendiri selaku korlip tetap stay di aula memonitori liputan.
Tiba waktu deadline pukul 15.00 semua hasil liputan kelompok ditayangkan, Hasil liputannya belasan kelompok peserta workshop keren – keren dengan beragam tema liputan.
Kendati kelompok saya belum mendapat juara, namun saya tetap senang nan bahagia, banyak ilmu dan wawasan baru saya peroleh pada workshop ini.
Pengalaman selama ini meliput di kampus di media KARAKTER Unsulbar kini bertambah dengan keterampilan yang diajarkan jajaran redaksi stasiun televisi Trans7.
Rasanya Waktu dua hari workshop sangat singkat, masih banyak yang harus dipelajari dari dunia jurnalistik, mulai dari bagaimana menentukan ide liputan, menulis naskah, fotography hingga videography.
Para pemateri berpesan kepada kami para peserta, untuk menjadi jurnalis seutuhnya, kita harus terus belajar, berlatih mengasah kemampuan diri.
Workshop redaksi Trans7 itu telah menambah semangat, menumbuhsuburkan motivasi dalam jiwa bahwa menjadi jurnalis, adalah salah satu jalan menjadi manusia yang bermanfaat bagi makhluk lain di muka bumi, semoga…(RDO1)

