Syair Sambayang di Negeri Paman Sam

Syair Sambayang di Negeri Paman Sam

- in Berita, Kampusiana
2233
0

Karakterunsulbar.com – Melewati semester pertama, dosen muda Unsulbar ini tengah belajar di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Ia juga menjadi pengajar dan sekaligus sebagai duta budaya Indonesia.

Ia belajar di salah satu universitas terbaik di dunia, selain itu gadis cantik ini juga mengajar bahasa Indonesia ke sejumlah mahasiswa dari berbagai negara di dunia yang datang ke Amerika.

Sebagai duta budaya, dosen ini tampil memukau di Yale University saat menampilkan budaya dari tanah Mandar yakni Tari Paq’denggo yang bersyair tentang sambayang lima wattu ( sholat Lima waktu )
berikut cerita lengkap Prisna  dari New Haven, Connecticut, Amerika Serikat . . . 
_________________

Living My American Dream

* Prisna Aswarita Putri
( Dosen program Studi Pendidikan Bhs. Inggris FISIP Unsulbar )                                                                               melaporkan dari Amerika Serikat

Mendapatkan beasiswa di Amerika Serikat sudah menjadi impian saya sejak kecil. Oleh karena itu, saya bekerja sangat keras untuk berusaha mewujudkannya. Dan akhirnya, pada tanggal 16 Agustus 2017, saya terbang ke Negeri Paman Sam menjemput impian saya.

Saya menghabiskan waktu kurang-lebih 24 jam dalam perjalanan untuk sampai ke Arkansas. Di sana, saya dan 80 penerima beasiswa Fulbright FLTA dari berbagai negara di dunia mengikuti Summer Orientation selama 4 hari di Universitas Arkansas.

Kampus ini menarik, karena pencetus beasiswa ini, William J. Fulbright menjadi salah satu alumnus dan mantan presiden kampus ini.

Selama orientasi, kami dibekali informasi yang akan kami butuhkan untuk dapat menjalani peran sebagai pelajar, pengajar Bahasa, dan juga duta wisata. Selain itu, kami juga diberikan gambaran mengenai sistem pendidikan dan kehidupan sosial di Amerika Serikat.

Sebagai seorang Fulbright FLTA Indonesia di Yale, saya diwajibkan mengambil 2 mata kuliah per semester, mengajar 2 kelas Bahasa Indonesia untuk pemula, dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan untuk mempromosikan kekayaan budaya Indonesia.

Saya mengambil kelas Principle of Language Teaching and Learning dan Professional Communication Skills. Di 2 kelas Bahasa Indonesia untuk Pemula, saya dan supervisor saya memiliki 36 mahasiswa. Di Universitas Yale,

kelas Bahasa hanya bisa diisi oleh maksimal 18 mahasiswa. Oleh karena itu, kami harus mengeliminasi hampir 20 mahasiswa yang juga ingin mengikuti kelas kami.

Diantara 53 bahasa asing yang ditawarkan di Yale, Bahasa Indonesia menjadi salah satu kelas dengan jumlah mahasiswa terbanyak. Kelas Bahasa Indonesia di Yale memiliki 3 level; pemula, menengah, dan lanjut. Untuk semua level, kami memiliki kurang-lebih 80 mahasiswa.

Berita terkait : Aktif Mengabdi di Pedalaman, Dosen Unsulbar Raih Beasiswa Ke Amerika

Budaya Mandar di AS

Sebagai bentuk promosi budaya Indonesia, khususnya Mandar (sebagai bentuk kecintaan saya pada daerah asal saya), saya dan 3 orang teman menampilkan tarian Paqdenggo pada acara Malam Budaya Indonesia, November 2017 di Universitas Yale.

Mengiringi tarian, lagunya dari Mandar bertema Sambayang Lima Wattu (Sholat Lima Waktu). Syairnya mengingatkan akan pentingnya bagi manusia untuk selalu mengingat kewajiban beribadah kepada-Nya.

video tarian Mandar di Amerika : https://www.facebook.com/prisna.putri/videos/10207954698224694/

Selain itu, pada Mid-Year Conference di Washington D.C., saya dan teman FLTA dari Indonesia mendapatkan kesempatan menjadi salah satu dari 10 di antara 50 negara untuk menampilkan pertunjukan budaya Indonesia.

Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan beasiswa ini karena banyak pengalaman baru yang saya dapatkan. Saya mengikuti beberapa konferensi seperti konferensi TESOL di Universitas Arizona, dan konferensi Southeast Asian Language Teaching di Universitas Cornell, New York.

Belajar dan mengajar di Yale sangat menyenangkan karena fasilitasnya lengkap dan teknologi yang digunakan sangat canggih. Mahasiswanya adalah mahasiswa terpilih sehingga motivasi belajarnya juga sangat tinggi.

Selain itu, pada liburan musim dingin, saya juga berkesempatan untuk jalan-jalan ke Negara Bagian California dan Nevada. Di California, saya dan teman-teman mengunjungi kota San Fransisco, San Jose, dan Los Angeles. Di Nevada, kami pergi ke Las Vegas.

Tentu saja tidak semuanya menyenangkan. Karena hanya ada beberapa orang Indonesia yang tinggal di kota New Haven, saya kesulitan untuk mencari bahan makanan Indonesia, juga tidak ada restoran Indonesia. Sangat jauh dari keluarga tentu saja membuat saya rindu ingin pulang. Ditambah lagi udara yang sangat dingin juga menjadi salah satu masalah buat saya.

Lebaran Idul Fitri di AS, September 2017. ( foto : FB Prisna )

Terlepas dari semua itu, saya mencintai Universitas Yale dan Kota New Haven. Berbeda dari apa yang diberitakan di media, saya sangat menikmati hidup sebagai muslimah yang mengenakan hijab di Amerika Serikat. Saya tidak pernah mengalami diskriminasi atau perlakuan tidak menyenangkan karena agama yang saya yakini dan pakaian yang saya kenakan.

Kini, semester kedua telah di mulai. Setengah perjalanan telah saya lalui. Saya akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal positif yang lebih banyak lagi.

Kini saya pahami, kita tetap bisa berpikiran terbuka tetapi tetap menjunjung nilai-nilai budaya. (RD01)

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Juga

Pemilihan Dekan FKIP Unsulbar : Lima Bakal Calon Bersaing

Sekretariat Panitia Pemilihan Dekan (Pildek) FKIP Unsulbar. (Foto