Foto : Mahasiswa Desa Lombang Timur saat kuliah online di gunung
Karakterunsulbar.com – Saat ini, sudah lebih 1 bulan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menjalankan sistem kuliah online (daring) untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19.
Berawal dari surat edaran Rektor Unsulbar, Akhsan Djalaluddin Nomor : 197/UN55/HK/2020, yang diterbitkan pada 16 Maret 2020 lalu, perintah untuk kuliah online berlaku hingga 29 Maret 2020.
Namun diperpanjang dengan surat edaran Nomor : 211/UN55/HK/2020 yang terbit 27 Maret lalu, dengan perpanjangan sampai 5 April 2020.
Kini, perpanjangan lagi sesuai surat edaran Nomor: 236/UN55/HK/2020, hingga 1 Mei 2020 mendatang.
Hal tersebut membuat mahasiswa khususnya yang tinggal di daerah terbatas jangkauan jaringan internet mengalami kesulitan.
Salah satunya Suparman (Akuntansi, 2017), yang tinggal di Desa Lombang Timur yang tidak memiliki akses jaringan dan berjarak 8 KM dari induk (daerah strategis) Kecamatan Malunda.
Setiap harinya, Suparman bersama mahasiswa dan pelajar lainnya harus menempuh jarak 8 KM ke gunung dengan jalan kaki agar mendapat koneksi jaringan. Mereka lebih memilih di gunung dibandingkan ke induk kecamatan dengan alasan keamanan dan menghindari keramaian.
“Jaraknya sama tapi kami merasa lebih aman jika digunung daripada ke pusat kecamatan,” tutur Suparman (16/04)

Tinggal di desa yang sama, hal serupa juga dirasakan oleh Andi Ashar Said (Teknik Informatika, 2018), ia mengungkapkan kekhawatirannya yang terpaksa tetap harus keluar rumah di tengah pandemi demi mengikuti kuliah online.
“Harapan kami, pihak kampus memaklumi jika kami tidak maksimal dalam kuliah online ini karena akses jaringan yang ada di kampung kami sangat sulit,” tambahnya. (16/04)
Supardi (Ilmu Hukum, 2017) yang tinggal di desa Salubanua, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulbar, juga mengungkapkan perjuangannya bersama mahasiswa lainnya agar tetap bisa mengikuti kuliah online.
Ia menjelaskan, harus menempuh jarak 2 KM dari rumahnya untuk ke gunung dengan kondisi jalan yang buruk dan curam, serta menanjak agar mendapat koneksi internet.
Ia pun meceritakan, apabilah dosen masuk jam 08.00 pagi, ia harus berangkat dari rumah kurang lebih jam 06.30 agar dapat sampai di puncak sebelum perkuliahan dimulai.
“Jika masih ada kuliah selanjutnya saya tidak pulang dan biasanya sampai sore dan membawa bekal untuk makan di gunung,” ujarnya. (15/04)
Lanjutnya, ia menceritakan, jika malam ada tugas yang harus dikerjakan dan membutuhkan internet, ia terpaksa harus ditemani sang bapak jika tak ada teman mendaki.
“Kalau hujan terpaksa harus telat masuk kulia karena jalanan tidakk dapat dilewati kalau hujan,”
Karenanya mereka berharap pandemi COVID-19 cepat berlalu agar proses pembelajaran bisa kembali seperti semula.

